Kemenperin Dorong IKM Manfaatkan E-Smart

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia mendorong para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk masuk dan memanfaatkan E-Smart. Program dari pemerintah tersebut disediakan bagi IKM untuk pengembangan usaha sekaligus pemasaran produk asli Indonesia.

Direktur IKM Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan Kemenperin RI Ratna Utarianingrum saat membuka workshop E-Smart IKM KSAK di Hotel Brothers Solobaru, Grogol, Sukoharjo, Selasa (12/09/2017) mengatakan, Kabupaten Sukoharjo menjadi salah satu daerah yang menjadi sasaran kegiatan pengenalan E-Smart kepada pelaku IKM. Kemenperin mendorong para pelaku IKM untuk memanfaatkan keberadaan E-Smart.

Pemerintah juga memanfaatkannya untuk membuat data base IKM agar valid diseluruh wilayah di Indonesia. “Di Sukoharjo ada banyak pelaku IKM dengan berbagai bidang usaha seperti herbal, kerajinan, makanan, jamu dan lainnya. Database ini perlu kami miliki sebagai bagian dari usaha pemerintah dalam menentukan kebijakan. IKM sendiri juga didorong untuk memanfaatkan E-Smart sebagai pengembangan usaha,” ujar Direktur IKM Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan Kemenperin RI Ratna Utarianingrum.

Ratna Utarianingrum melanjutkan, berdasarkan laporan Uniter Nations Industrial Development Organization (UNIDO) Indonesia saat ini menempati peringkat ke-9 sebagai negara dengan nilai tambah industri manufaktur terbesar. Dengan capaian tersebut, Indonesia melampaui negara industri lain seperti Inggris, Rusia dan Kanada.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor industri pengolahan non migas pada triwulan II tahun 2017 adalah sebesar US$ 59,79 miliar, sedangkan nilai impor industri pengolahan non migas pada periode yang sama adalah sebesar US$ 55,58 miliar. Dan jumlah tenaga kerja yang bergerak di sektor industri yaitu sebesar 16,57 orang berdasarkan data BPS Februari 2017.

Kontribusi terbesar pada pembentukan PDB nasional triwulan II tahun 2017 diberikan oleh sektor industri pengolahan yaitu sebesar 20,26 persen, dimana industri pengolahan non migas memberikan kontribusi sebesar 17,94 persen. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi khsusnya dalam pengembangan industri dalam negeri, Direktorat Jenderal IKM Kemenperin melalui Direktorat IKM Kimia, Sandang, Aneka, dan Kerajinan melaksanakan workshop E-Smart IKM.

“Kegiatan workshop ini dilakukan untuk mensosialisasikan kebijakan dan fasilitas yang mendukung pengembangan usaha IKM, utamannya adalah meningkatkan kemampuan para pelaku IKM dalam berbisnis melalui sarana E-Commerce,” lanjutnya.

Ratna Utarianingrum menghimbau pelaku IKM peserta workshop E-Smart IKM untuk terus mengupdate data produk maupun penjualan yang dilakukan melalui online marketing. Direktorat IKM Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan akan melakukan evaluasi terhadap data respon pasar terhadap produk yang masuk dalam program E-Smart IKM sebagai bahan analisa penyusunan kebijakan pembinaan IKM kedepannya.

Berbagai pembinaan yang dilakukan diantarannya adalah fasilitasi branding, sertifikasi produk IKM, penguatan sumber daya manusia melalui kegiatan bimbingan teknis dan pendampingan, fasilitasi pembiayaan melalui KUR dan fasilitasi peningkatan teknologi mesin produksi melalui program restrukturisasi mesin atau peralatan IKM.

Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Sukoharjo Bahtiyar Zunan mengatakan, industri di Sukoharjo baik dalam skala kecil, menengah dan besar sangat banyak. Untuk industri sendiri ada sebanyak 400 unit dan IKM jumlahnya lebih banyak mencapai 16 ribu usaha diberbagai bidang.

IKM di Sukoharjo terus didorong oleh Pemkab Sukoharjo dalam pengemangan usaha. Seperti memberikan pelatihan, usaha bantuan permodalan, pemasaran dan lainnya.

“Keberadaan E-Smart dari Kemenperin ini sangat bagus dalam membantu pengembangan usaha IKM Sukoharjo. Termasuk juga mengenalkan produk khas Sukoharjo di pasar nasional melalui online,” ujarnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI