Keren.. Batik Penyandang Difabel Ini Tembus Pasar Luar Negeri

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Beberapa pemain basket IBL Pertamax Allstar yang akan bertanding di Solo, menyempatkan diri belajar membatik di workshop Sriekandhi, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Selasa (8/1/2019) petang. Workshop binaan Terminal BBM Boyolali PT Pertamina tersebut memberdayakan difabel dan produksinya telah mampu menembus pasar luar negeri.  

Kunjungan tersebut merupakan salah satu wujud syukuran atas pencapaian Terminal BBM Pertamina meraih proper emas, yakni penghargaan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup bagi perusahaan yang berhasil memberdayakan masyarakat dan lingkungan. 

Operation Head Terminal BBM Boyolali, Abdul Wahid Nayu menjelaskan, pemberdayaan difabel di workshop batik tulis tersebut sudah berlangsung sejak 2016, dengan memberikan pelatihan, modal, hingga pendampingan pemasaran. Saat ini, produk batik tulis penderita difabel tersebut sudah sampai di pasaran luar negeri, diantaranya Jepang dan Kanada. 

"Jepang sudah lima kali memesan batik karya teman-teman difabel. Mereka juga sudah ikut pameran tingkat nasional," ucap Nayu. 

Saat ini, ada lima penyandang difabel di workshop tersebut yang sudah mampu berkarya. Tahun ini, program serupa akan diperluas dengan menggandeng lebih banyak difabel. "Selain batik, nanti kita beri keterampilan lain sesuai bidangnya. Selain memberdayakan difabel, juga kita bantu mereka mengembangkan inkubasi bisnis," tegasnya.

Selain pengembangan penyandang difabel, Terminal BBM Boyolali melalui program CSR juga mengembangkan taman edukasi terpadu di Desa Tawangsari. Di taman tersebut, terdapat berbagai penerapan teknologi alternatif, misal biogas dari kotoran sapi, pembuatan BBM alternatif dari sampah plastik, serta penerapan kincir hidrolik. 

Salah satu pemain IBL dari klub Stapac Jakarta, Kaleb Ramot Gemilang yang menjajal membatik dengan rekan pemain lainnya, yakni dari klub Hang Tuah dan Satria Muda Pertamina, mengaku terkejut dengan teknis membatik yang ternyata cukup sulit. "Kita tahunya pakai saja. Setelah menjajal membatik, ternyata sangat sulit," pungkasnya. (Gal)

BERITA REKOMENDASI