Kiosk, Tekan Inflasi dan Sejahterakan Petani

Editor: KRjogja/Gus

ONE KRISNATA menemukan konsep baru untuk meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus menjaga ketahanan pangan dan upaya menekan inflasi. Menurut Alumnus United States International University – San Diego (USIU),  yang juga Wakil Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti yang mengelola Universitas Budi Luhur Jakarta, serta jenjang pendidikan dibawahnya tersebut, konsep yang disebutnya dengan Kiosk Beras, tersebut sudah ia terapkan di Klaten serta beberapa daerah lain. 

Hasilnya sangat signifikan, bisa meningkatkan penghasilan petani rata-rata Rp 1 juta per petak sawah.
Konsep Kiosk Beras untuk solusi peningkatan kesejahteraan petani, sekaligus menjaga stabilitas pangan dan menekan inflasi  tersebut, ditemukan setelah melakukan beberapa penelitian dan uji coba, melalui studi banding langsung pada petani padi di Jepang dan Vietnam.

One Krisnata mengemukakan, penemuan konsep Kiosk Beras itu berawal dari keprihatinanya melihat berbagai persoalan yang membelit petani di Indonesia, sehingga kesejahteraan petani sulit meningkat. Dengan konsep yang dibuatnya tersebut, One Krisnata sudah membuktikan  bisa menjadi salah satu solusi untuk menjaga ketahanan pangan.

Yakni dengan memangkas mata rantai distribusi beras yang saat ini cukup panjang, menjadi sangat sederhana. Dengan mata rantai distribusi yang super pendek, margin keuntungan bisa lebih banyak dinikmati petani. “Dengan konsep ini, riil petani bisa mendapatkan keuntungan lebih besar  dibanding sebelumnya. Yang padinya di sawah semula akan ditebas Rp 6 juta, setelah kita tangani petani bisa menerima Rp 8,4 juta ini nyata,” kata One Krisnata.

Distribusi sederhana yang dimaksud adalah, padi dari petani dibeli langsung oleh Kiosk dengan sistem kilo bukan tebas secara global. Dengan cara ini petani akan tahu secara terbuka berapa ton gabah yang dihasilkan dari sawahnya. Jumlah itulah yang akan dibeli oleh Kiosk.

Dengan cara itu pula, petani akan termotivasi, berlomba untuk lebih meningkatkan volume produktivitas sawahnya, sehinga akan berupaya menjaga kesuburan tanahnya, agar bisa memberikan hasil panen yang bagus. Dengan pendapatan panen yang bagus, petani akan lebih giat menanam, sehingga diharapkan hal ini bisa menekan laju alih fungsi lahan produktif ke non pertanian.

Di Kiosk, gabah diolah, dikeringkan dan disimpan dengan standasr pergudangan yang memadai. Hal ini bisa menjadi andalan untuk penanganan pasca panen, utamanya saat musim penghujan. Biasanya petani kesulitan menjemur dan menyimpan gabahnya saat penghujan, sedangkan jika ditebaskan umumnya harga jatuh, sehingga petani merugi. Dengan konsepk Kiosk, persoalan tersebut bisa teratasi, dan petani tetap mendapatkan keuntungan yang besar, tidak perlu kawatir lagi gabahnya akan membusuk karena sulit mengeringkan dan menyimpan.

Menjawab pertanyaan apakah penemuan dan penerapan konsep Kiosk tersebut melibatkan pemerintah, owner Hotel Galuh tersebut menegaskan, sejak awal penelitian ia melakukanya secara mandiri. Namun demikian, hasil temuan itu akan ia sumbangkan pada negara, agar bisa menjadi salah satu solusi di bidang ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani, sekaligus menekan inflasi.

“Saya pikir ini kewajiban saya sebagai warga negara saja, untuk berperan serta mencari solusi masalah yang dihadapi bangsa kita, dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Kalau dinilai relevan, silahkan konsep ini diadopsi oleh pemerintah demi kesejahteraan rakyat, bahkan dengan senang hati saya akan terus melakukan inovasi sampai konsep ini benar-benar bagus,” kata One pula.
Terkait hal itu, kini One Krisnata menggandeng ahli teknik untuk membuat terobosan baru, mesin pemotong padi yang bisa dioperasikan untuk lahan genangan air. (Sit)

BERITA REKOMENDASI