Kuliah Umum Unwidha, Mahasiswa Harus Kritis, Kreatif dan Inovatif

Editor: KRjogja/Gus

KLATEN, KRJOGJA.com – Mahasiswa harus menjadi pribadi yang berpemikiran kritis, kreatif dan inovatif. Hal ini dikemukakan, Dr Zuraini Jamil Osman dari Departement and Moral Studies, Civics and Character Building, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, dalam vsisiting lecturer, mata kuliah pendidikan karakter di Universitas Widya Dharma (Unwidha ) Klaten, Sabtu (16/11).

Menurut Dr Zuraini, pemikirian kritis, kreatif dan inovatif, akan membentuk seseorang menjadi insan yang seimbang, dengan penguasaan beberapa faktor. Antara lain faktor kemampuan dalam komunikasi, penguasaan sains dan teknologi, perkembangan fisikal dan estetika, ketrampilan diri, kemanusiaan, serta kerohanian sikap dan nilai.

Lebih lanjut Dr Zuraini menjelaskan, seseorang tidak cukup hanya cerdas saja, melainkan perlu memiliki moral yang baik, dan bertanggungjawab atas segala keputusan yang diambil, atau perilakunya. “Jadi orang yang bertanggungjawab dan baik dalam bertingkah laku. Ada hak, tapi diikuti tanggungjawab,” kata Dr Zuraini.

Kuliah umum berlangsung seru, dengan pertanyaan-pertanyaan berbobot dari para mahasiswa. Dr Zuraini yang semula banyak pemaparan di depan, akhirnya pentas dan mendekat ke tempat duduk mahaiswa sambil memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menghidupkan suasana. Seorang mahasiswi berusaha menjawab dalam logat Malaysia, sehingga menimbulkan gelak tawa baik dari mahasiswa maupun dosen yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Tak kalah seru, beberapa mahasiswa Unwidha juga menyampaikan pertanyaan yang menarik. Diah mempertanyakan bagaimana cara menyingkronkan persepsi antara orangtua, sekolah dan lingkungan dalam hal memberikan pendidikan karakter pada anak.

Wakil Rektor III Unwidha Ir H Daru Pratomo MT mengemukakan, visiting lecturer tersebut sebagai tindaklanjut kerjasama antara Unwidha dan UPSI. Selain itu juga untuk memberikan wawasan bagi mahasiswa, agar mengetahui bahwa dalam program studi atau mata kuliah yang sama, akan ada perbedaan pengembangan materi maupun penyampaian di masing-masing negara.

“Setiap kerjasama kan harus kita tindaklanjuti, baik dalam pertukaran mahasiswa atau dosen. Selain itu agar mahasiswa juga lebih terbuka wawasanya,” kata Daru Pratomo. (Sit)

 

BERITA REKOMENDASI