Lurik Tradisional Mampu Bersaing di Era Modern

KLATEN, KRJOGJA.com – Lurik hasil tenun tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) terus dipertahankan oleh Sunardi warga Desa Mlese, Kecamatan Cawas, Klaten. Perajin lurik berusia 36 ini optimis lurik hasil ATBM tetap mampu bersaing dengan lurik dari alat tenun mesin (ATM) yang saat ini sudah merambah di pasaran.

"Lurik hasil ATBM memiliki ciri khas. Kenyamanan pakai itu yang utama. Selain itu penggunaan ATBM bisa memproduksi dalam kapasitas kecil atau sesuai pesanan konsumen," ujar Sunardi saat ditemui KRJOGJA.com di kediamannya Rumah Tenun Nardi Art di Jalan Parikesit, Desa Mlese, Cawas, Klaten, Minggu (22/10/2017).

Sunardi mengaku menekuni lurik sejak tahun 2008. Ia bertekad mempertahankan ATBM yang merupakan warisan turun temurun. Saat ini setidaknya ada lima ATBM dan sejumlah alat pendukung tradisional yang dimiliki Sunardi untuk memproduksi lurik. Dibantu beberapa rekan kerjanya, Sunardi bisa memproduksi lurik sekitar delapan meter persegi per ATBM per hari.

"Mempertahankan ATBM karena merupakan warisan keluarga. Sekarang tinggal merawat dan mengembangkan usahanya. Untuk wilayah pemasaran lurik mayoritas pasar lokal, selain itu ke Jogjakarta, Surabaya, dan lainnya. Ada juga order pesanan yang rata-rata 600 – 800 merter per bulan. Kualitas maksimal. Dalam pelayanan kami juga jemput bola," ungkapnya.

Menurutnya, hasil produksi yang diminati konsumen yakni lurik bermotif Jogokaryan. Kendati demikian ia juga memproduksi aneka motif lain. Mengenai harga, Sunardi mengatakan tergantung kualitas. Semakin bagus kualitasnya, harga semakin mahal. Dicontohkan, untuk lurik berukuran 110 cm dipatok harga Rp 45.000. (Lia)

BERITA REKOMENDASI