Mahasiswa Baru Unwidha Antusias Kuliah Tatap Muka

Editor: Agus Sigit

KLATEN, KRjogja.com – Kuliah perdana Universitas Widya Dharma Klaten tahun akademik 2021/2022 disambut antusia oleh para mahasiswa baru. Pembukaan kuliah secara tatap muka oleh Rektor Unwidha Prof. Dr. Triyono M.Pd, Senin (6/9/21).

Dikarenakan masih masa pandemi, dari 800 mahasiswa baru, hanya 150 mahasiswa yang mengikuti kuliah perdana secara langsung, sedangkan lainya mengikuti secara zoom dan dari Youtube.

Sebanyak 150 mahasiswa itupun dibagi dalam tiga lokasi. Yakni di aula gedung rektorat 50 orang, auditorium FKIP 50 orang, dan di gedung pasca sarjana 50 orang. Kuliah perdana ditandai dengan pemberian kartu mahasiswa dan jaket almamater pada para mahasiswa baru.

Jamarton Afan Lahonta dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara mengaku sangat senang bisa mengikuti kuliah perdana secara tatap muka. Jauh meninggalkan Sulawesi, ia memilih Unwidha sebagai tempat kuliah. “Saya dapat informasi dari kerabat dan teman-teman saya, kalau ada universitas yang sangat bagus di Klaten, yatitu Unwidha. Jadi saya pilih kuliah di sini,” kata Jamarton.

Wakil Rektor I Unwidha Dr. Purwo Haryono M.Hum, didampingi Wakil Rektor II Dr. Tukiyo M.Pd mengemukakan, mahasiswa baru Unwidha tahun ini sebanyak 800 orang. Terdiri program pasca sarjana, program profesi guru, program sarjana dan program diploma.

Ratusan mahasiswa baru tersebut dari berbagai pelosok Indonesia. Antara lain dari Batam, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barta, Halmahera hingga Papua.

Untuk perkuliahan sudah disiapkan dengan sistem blended learning antara tata muka dan daring. Ada mata kuliah tertentu yang sangat sulit dilakukan dengan daring, namun ada juga mata kuliah yang mudah dilaksanakan dengan daring.

“Mata kuliah praktik masih sangat sulit untuk daring. Misal praktik laboratorium mikro biologi kan tetap harus ada gelas ukur, larutan. Harus tahu warnanya, bau, tektur dan lain-lain. Kan ga bisa kalau daring,” jelas Purwo Haryono.

Kendati demikian, tetap akan memperhatikan kapasitas laboratorium, dengan isian maksimal 30 persen. Hal ini mengakibatkan kerja dosen menjadi bertambah, sedangkan SKS nya tetap. “Mestinya selesai 2 SKS, tetapi karena pembatasan harus dijadikan tiga sesi kan seperti menjadi 6 SKS, padahal formalnya tetap 2 SKS. Ini pengorbanan dosen yang luar biasa di masa daring,” tambah Purwo Haryono pula. (Sit)

 

BERITA REKOMENDASI