Mata Najwa On stage TRANS7, Cerita Anak Kampung yang Mendunia

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Titik balik hidup Sutopo Purwo Nugroho yang sekarang menjabay Kepala Pusat Data dan Informas dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terjadi saat kelas empat SD.

Pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 yang dirisak teman-temannya karena kebandelan dan tak bisa membaca hingga kelas 2 SD tersebut berubah total saat dipuji gurunya karena menyapu halaman.

"Kelas empat SD hidup saya berubah total. Saat pulang sekolah saya biasanya menyapu halaman.  Kebetulan guru saya, Bu Suwarti lewat dan memuji saya. Besoknya di sekolah saya dipuji kalau saya rajin. Setelah itu, saya kalau menyapu halaman menunggu Bu Suwarti lewat dulu," kata Sutopo saat Program Mata Najwa On stage TRANS7 di Alun-alun Boyolali, Sabtu (23/2) malam.

Biasa dirisak teman-temannya, pujian gurunya tersebut melecut semangat Sutopo. Sejak itulah, giat belajar hingga selalu meraih juara kelas. Di SMP dan SMA selalu menjadi juara dan ketua kelas. Setelah lulus SMA, sekolahnya dilanjutkan di UGM. Pilihannya di Fakultas Geografi UGM, bidang keilmuan yang membesarkan namanya pun tak mulus. 

Jurusan tersebut adalah pilihan ke tiga setelah pihan pertama dan keduanya tak lolos, yakni Fakultas Kedokteran dan Manajemen. Dua semester pertama dijalani dalam kegalauan bahkan sering bolos kuliah.

Lecutan semangat hadir dari hardikan bapaknya yang berprofesi sebagai guru SD, yang berkesah harus membiayai kuliah Sutopo dengan berhutang.  Selanjutnya, memutuskan bahwa Geografi adalah bidang terbaik baginya. Pilihan itu tak salah. Kuliah dijalani dengan tekun hingga menjadi lulusan terbaik dan cum laude tercepat Fakultas Geografi UGM.

“Dipuji orang sangat bangga. Dari itu saya belajar menjadi juara untuk membanggakan orang tua,” katanya kepada host acara Mata Najwa On stage TRANS7, Najwa Shihab, di hadapan 7 ribu penonton yang duduk lesehan yang khusuk mendengar kisah hidup Sutopo.

Dalam Program  Mata Najwa On stage TRANS7 kali ini, yang mengangkat Cerita Anak Kampung,  ada tiga narasumber lain yang dikulik kisah hidupnya. Mereka adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang lahir dan besar di kaki Gunung Lawu, yang mesti makan dengan lauk satu telur dibagi empat untuk dibagi dengan lima saudaranya. 

Lalu ada Anne Avantie, lulusan SMP yang karya desainernya mampu menduia. Dan terakhir adalah Tyovan Ari Widagdo, hacker tobat asal Wonosobo yang belajar IT secara otodidak dan membangun portal di usia 16 tahun. Kebandelannya membawanya magang di markas Google dan sekarang adalah pendiri start up aplikasi Bahaso, aplikasi untuk pembelajaran bahasa asing. (Gal)

BERITA REKOMENDASI