Mayoritas Guru di Klaten Tak Paham IT

Editor: KRjogja/Gus

KLATEN (KRjogja.com) – Mayoritas tenaga pendidik, khususnya di tingkat sekolah dasar (SD) di Kabupaten Klaten sampai saat ini belum menguasai ilmu teknologi (IT). Hal ini tentu menjadi kendala saat menjalani proses pembelajaran yang diharuskan menggunakan teknologi.

 

Saat ini, total jumlah tenaga pendidik tingkat SD berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di Klaten ada sebanyak 4.192 orang yang tersebar di 718 sekolah. Dari jumlah itu, lebih dari 50% belum bisa menguasai IT.

“Masih banyak kepala sekolah, guru, dan pengawas SD di Klaten yang belum bisa menguasai IT, lebih dari 50%,” ujar Kasi TK dan SD Bidang Pendidikan Dinas Pendidikan Klaten, Suroyo, disela kegiatan Workshop Pengembangan Kurikulum SD Kabupaten Klaten Tahun 2016 di gedung PGRI Klaten, Jumat (19/8/2016).

Menurutnya, tenaga pendidik, khususnya di tingkat SD harus bisa menguasai IT. Hal itu guna mendukung jalannya proses pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum 2013. Sebab, proses pembelajaran Kurikulum 2013 dilakukan melalui dua arah, artinya siswa tidak lagi sebagai obyek, tapi juga sebagai subyek. Sehingga siswa diberikan kebebasan untuk berkembang sesuai bakatnya.

“Saat ini hampir semua kegiatan pembelajaran tuntutannya IT, termasuk kegiatan akreditasi. Tidak bisa yang namanya laporan itu hanya manual. Seperti saya, kalau minta laporan harus berbentuk softcopy atau melalui email,” ujarnya.

Dikatakan, guna menambah wawasan IT kepada tenaga pendidik pihaknya sudah berupaya menggelar pelatihan setiap tahun. Pada setiap kesempatan, antusiasme tenaga pendidik cukup tinggi. Tahun ini kegiatan yang sama akan digelar Oktober mendatang.

Sementara itu, kegiatan Workshop Pengembangan Kurikulum SD Kabupaten Klaten Tahun 2016 diikuti 145 peserta yang teridiri dari guru kelas I atau kelas IV SDN implementasi Kurikulum 2013. Kegiatan itu digelar selama tiga hari mulai Kamis sampai Sabtu (18 – 20/8).

Tujuan dari kegiatan itu yakni agar peserta memahami standar isi, standar kompetensi lulusan (SKL), standar proses, dan standar kewilayahan. Selain itu agar peserta mampu membuat dan mengembangkan perangkat pembelajaran.

Melalui kegiatan itu juga diharapkan peserta mampu mengaplikasikan dalam pengisian buku raport, mampu mengembangkan pada proses pembelajaran dan evaluasi, serta mampu meningkatkan mutu pendidikan SD implementasi Kurikulum 2013. “Aplikasi ini juga digunakan dalam pengisian raport. Sebab jika pengisian raport dilakukan secara manual maka memakan waktu lama. Sedangkan menggunakan aplikasi akan lebih cepat,” imbuhnya. (M-7)

 

BERITA REKOMENDASI