Menristek Salurkan Bantuan Traktor ke Unwidha Klaten

Editor: Ivan Aditya

KLATEN, KRJOGJA.com – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro, menyalurkan bantuan hibah alat mesin pertanian (alsintan) berupa hand traktor kepada Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten, Jawa Tengah, Rabu (18/12/2019). Hand traktor yang diberikan adalah berbahan bakar gas.

"Penyerahan hand traktor ini adalah upaya ristek untuk memberikan teknologi tepat guna, terutama bagi yang bergerak di bidang pertanian, khususnya padi. Dimana untuk bisa meningkatkan produktivitas padi, salah satunya dibutuhkan alat mesin pertanian, dan hand traktor ini adalah salah satunya. Hand traktor harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, termasuk oleh para petani disekitarnya," ujar Bambang.

Bambang mengatakan, Kabupaten Klaten merupakan salah satu daerah lumbung padi di Jawa Tengah dan bahkan Nasional. Sehingga dengan adanya hand traktor diharapkan produksi padi dari Klaten terus meningkat dan bisa mensuplai kebutuhan di seluruh Indonesia.

"Kelebihan hand traktor ini adalah pada bahan bakarnya, yang tadinya menggunakan bahan bakar solar, telah diganti menggunakan gas ukuran 5,5 kilogram. Pastinya menggunakan gas biaya lebih murah dan efisien dibandingkan dengan solar. Bisa menghemat biaya bahan bakar 60%. Selain itu juga bisa ikut menjaga lingkungan karena bebas polusi udara," jelasnya.

Sementara itu, Rektor Unwidha, Triyono, mengucapkan terimakasih kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan hibah berupa hand traktor. Unwidha akan menjaga, merawat dan memanfaatkan alsintan tersebut dengan baik, khususnya bagi mahasiswa program studi teknologi hasil pertanian.

Sebagai informasi, selain berkunjung ke Unwidha, Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro juga mengunjungi Pusat Pengembangan Sapi Gama dan Bengkel Ternak kerjasama Fakultas Peternakan UGM dan PT Widodo Makmur Perkasa di Desa Jambakan, Kecamatan Bayat, Klaten.

Dalam arahannya, Bambang mengatakan, saat ini konsumsi daging sapi di Indonesia masih rendah. Hal itu disebabkan karena daya beli rendah. Dengan program sapi gama diharapkan dapat menambah pasokan daging untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat. (Lia) 

BERITA REKOMENDASI