Merapi Ditutup, Target Kunjungan Wisman Meleset

Editor: KRjogja/Gus

 

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Penutupan pendakian Gunung Merapi berimbas pada menurunnya jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung di Boyolali.

Kepala Dinas Pemuda Olah raga dan Pariwisata (Disporapar) Wiwis Trisiwi Handayani, Senin (29/10) menjelaskan, tahun 2018 ini pihaknya menargetkan sebanyak 2 ribu wisman berkunjung ke Boyolali. Namun sampai saat ini hanya terealisasi sebanyak 700 wisman saja.

Salah satu aspek yang membuat target kunjungan meleset, sebutnya, yakni ditutupnya pendakian Merapi sejak Mei lalu menyusul penetapan status Merapi menjadi Waspada karena peningkatan aktivitas vulkanik. Selama ini, sebagian wisman yang berkunjung ke Boyolali adalah pendaki Merapi yang mendaki melalui pintu masuk Selo. "Kalau pendakian tidak ditutup, target kunjungan wisman mungkin sudah tercapai," katanya.

Sementara itu Camat Selo, Djarot Nugroho mengatakan, selain mengandalkan kunjungan wisata dua pintu pendakian yang ada di wilayah Selo, yakni pendakian Gunung Merapi dan Merbabu, kawasan pariwisata Selo saat ini mulai menggeliat. Kawasan Selo berbenah untuk menawarkan berbagai pesona wisata, baik alam, budaya, hingga religi. "Masyarakat Selo saat ini sudah mulai berpikir tak hanya mengandalkan pertanian," katanya.

Seiring peningkatan kunjungan wisatawan, baik lokal maupun wisman, homestay atau penginapan pun mulai tumbuh. Beberapa waktu lalu, sebutnya, ada investor yang membantu pengelolaan sekitar 20an homestay milik masyarakat. Bangunan penginapan milik Pemkab pun diremajakan dan dikelola kembali.

"Di wilayah Desa Klakah, saat ini juga ada pengembangan kawasan wisata air," katanya.

Konsepnya dengan memanfaatkan aliran sungai. Selama ini, kata Jarot, aliran sungai tersebut dimanfaatkan menjadi wisata air di wilayah Magelang, meski sumber airnya ada di Boyolali, yakni di lereng Merapi. "Pengembangan wisata air sudah didesain. Kolam-kolamnya juga sudah dibangun," (Gal)

 

BERITA REKOMENDASI