Musim Kemarau Berakhir, Petani Sukoharjo Genjot Produksi Pertanian

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Selama musim kemarau tidak ditemukan adanya petani gagal panen padi. Petani masih bisa panen dengan hasil maksimal dengan mengandalkan berbagai sumber air untuk mengairi sawah. Kalaupun ada kerusakan sifatnya ringan karena ada serangan hama seperti penggerak batang, tikus dan wereng.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti, Minggu (11/10/2020), mengatakan, evaluasi selama musim kemarau tidak ditemukan adanya petani gagal panen padi. Petani masih bisa panen dengan hasil maksimal. Kondisi tersebut melegakan baik bagi petani maupun Pemkab Sukoharjo. Sebab hasil panen padi para petani sangat diharapkan mampu meningkatkan hasil produktivitas stok pangan daerah dan nasional.

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo selama musim kemarau lalu terus memberikan pendampingan dan pemantauan langsung ke sawah petani. Hal itu dilakukan agar tanaman padi petani bisa panen maksimal ditengah cuaca panas. Selain itu, selama musim kemarau petani juga mengalami masalah adanya beberapa serangan hama seperti penggerek batang, tikus dan wereng.

Pendampingan yang dilakukan Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo dilakukan salah satunya membantu mengatasi masalah serangan hama. Pemberantasan penggerek batang, tikus dan wereng digelar secara bersama.

“Selama musim kemarau kemarin tidak ada patani gagal panen. Petani mampu panen dengan hasil maksimal sesuai yang kami harapkan. Kalaupun ada beberapa petani mengalami penurunan terjadi karena faktor serangan hama dan sifatnya ringan saja,” ujarnya.

Panen maksimal dikatakan Netty salah satunya juga faktor ketersediaan air. Sebab musim kemarau tahun ini datang terlambat dibandingkan sebelumnya.

“Hujan tahun ini berlangsung lama dan kemarau sebentar. APalagi pada awal Oktober ini juga sudah turun hujan lagi. Itu sangat berpengaruh pada ketersediaan stok air petani,” lanjutnya.

Wilayah selatan meliputi Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu ditambahkan Netty juga tidak terlalu terpengaruh musim kemarau. Sebab tanaman padi petani disana mampu menghasilkan hasil panen maksimal.

Data dari Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo dihitung rata rata angka panen padi petani mampu menghasilkan sekitar 7,5 ton–8 ton gabah. Harga jual juga tinggi mencapai Rp 5.100 per kilogram atau melebihi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kilogram.

“Pada 10 Oktober kemarin sudah dilakukan penutupan pintu air Dam Colo, Nguter selama satu bulan untuk perawatan rutin tahunan. Tapi itu tidak terlalu berpengaruh pada petani memasuki musim tanam baru mengingat sekarang sudah turun hujan,” lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI