Operator Lurik ATBM Kesulitan Regenarasi

KLATEN (KRjogja.com) – Lurik tradisional/alat tenun bukan mesin (ATBM) kesulitan regenerasi operator. Saat ini operator ATBM didominasi generasi tua. Namun demikian lurik ATBM Klaten masih mampu bersaing di pasar ekspor.

Perajin lurik tradisional di Desa Cabean, Mlese, Kecamatan Cawas, Klaten, (Yusuf) Jumat (02/09/2016) mengatakan, lurik produksi ATBM mampu menembus pasar ekspor di Jepang. Di sisi lain pasar ke Austaria mengalami kendala, sebagai dampak kasus Bali Nine beberapa waktu lalu.

Setiap kali pengiriman ke Tokyo, Jepang sebanyak 800 potong selendang kain rayon, dan tujuh motif lurik katun sebanyak 300 meter. Ekspor ke Jepang tersebut baru mulai pada tahun 2016.

Yusuf mengaku memanfaatkan media sosial untuk berhubungan dengan buyer luar negeri. Meski dengan bahasa Inggris seadanya, ia mampu berkomunikasi dengan baik, dan pesanan maupun pengiriman hingga kini bisa lancar.

Terkait dengan persaingan pasar dalam negeri maupun pasar global, Yusuf tidak memandang produsen lain sebagai kompetitor, melainkan sebagai mitra yang saling melengkapi. Keberadaan lurik pabrikan juga tidak mengkawatirkan.  "Kan teman produsen lain punya kekurangan juga, maka di sana saya hadir melengkapi, begitu juga sebaliknya. Bahkan lurik pabrik pun bagi saya bukan kompetitor, masing-masing punya pasar sendiri,” kata Yusuf. (Sit)

BERITA REKOMENDASI