Pemantauan Lahan Pertanian Rawan Kekeringan Diintensifkan

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Lahan pertanian di wilayah kering mulai dipantau sebagai antisipasi dampak musim kemarau mengakibatkan tanaman padi rawan mengalami kekeringan. Pemantauan dilakukan mengingat kondisi sekarang curah hujan turun drastis dan petani sudah tanam padi pada musim tanam II (MT II). Pada MT I padi sebelumnya petani mengalami kerugian besar karena hasil panen tidak maksimal akibat serangan hama tikus.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Bagas Windaryatno mengatakan antisipasi dilakukan Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo dengan menerjunkan petugas memantau kondisi lahan pertanian. Pemantauan tersebut akan difokuskan di wilayah rawan kekeringan seperti di Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu. Kegiatan serupa juga dilakukan di wilayah lainnya. Hal itu dimaksudkan sebagai langkah cepat mengetahui masalah dan mencari solusi demi peningkatan hasil panen padi.

“Pada MT I lalu petani dihadapkan masalah serangan hama tikus. Sedangkan masuk MT II ini hama tikus masih jadi ancaman ditambah rawan kekeringan karena sudah masuk peralihan cuaca ke kemarau. Pemantauan dilakukan sebagai bagian antisipasi dan pendampingan terhadap petani dengan harapan panen padi bisa melimpah mengingat Kabupaten Sukoharjo merupakan lumbung pangan nasional,” ujarnya, Senin (17/05/2021).

Pada awal peralihan cuaca dari hujan ke kemarau belum terlalu berpengaruh pada lahan pertanian. Kebutuhan air untuk tanaman padi petani masih terpenuhi dari sumber penampungan seperri Dam Colo Nguter, Waduk Mulur, dan Sungai Bengawan Solo. Kondisi sawah masih dapat teraliri air dan membuat lega petani.

Pemantauan akan semakin diintensifkan pada periode Juni hingga Agustus mendatang atau saat puncak musim kemarau. Disaat ini dikhawatirkan terjadi masalah dan mengancam tanaman padi petani.

“Kerawanannya tidak hanya soal pemenuhan kebutuhan air saja. Tapi juga masih ada serangan hama. Jadi perlu gerakan bersama petani agar hasil panen padi melimpah,” lanjutnya.

Bagas menjelaskan, permasalahan serangan hama dapat teratasi dengan kekompakan petani melakukan pola tanam serentak mulai dari tanam dan panen. Selain itu juga dilakukan pemberantasan hama serentak agar hasil lebih maksimal memusnahkan tikus. Sistem tersebut terus digenjot di petani dengan melibatkan juga masing masing kepala desa dan lurah sebagai motor penggerak bersama kelompok tani atau gabungan kelompok tani.

Permasalahan air, dijelaskan Bagas dibeberapa titik sekarang sudah terfasilitasi sumur dalam yang disediakan pemerintah untuk petani. Keberadaanya diharapkan dapat membantu pemenuhan air bagi petani. Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo juga membantu menyediakan mesin pompa air untuk membantu petani mendapat air dari sumber alternatif sumur pantek.

Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo Timur, Jigong Sarjanto, mengatakan, dilihat dari stok air pada awal MT II padi April lalu memang sangat melimpah karena hujan masih turun. Air untuk pertanian juga masih terjamin dari Dam Colo Nguter. Namun masalah dihadapi petani karena serangan hama tikus dan curah hujan tinggi disertai angin kencang. Masalah lain dihadapi sekarang memasuki bulan Mei dimana sudah masuk peralihan cuaca dari hujan ke kemarau. (Mam)

BERITA REKOMENDASI