Pembagian Hasil Tambang Merapi Tak Merata Berujung Pelaporan

Editor: Ivan Aditya

Dijelaskan, persoalan yang dilaporkan sangat kompleks. Salah satu contohnya adalah kliennya jadi korban penipuan rekannya berinisial HKY. Sedangkan kehadiran dirinya bersama tim untuk memberikan dorongan pemahaman dan masukan ke polisi. Hal-hal yang kurang pas agar sama-sama dikoreksi. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Polres Klaten dan memverifikasi semua data yang ada untuk disempurnakan.

“Apakah karena bagi hasilnya, apakah karena perikatannya, perseroannya, apakah pekerjaannya yang di dalam, apakah kekurang cakapan penyidik yang tidak paham mengupas tuntas permasalahan ini. Kita juga tidak tahu,” jelasnya.

Seharusnya, kata Jamal, apabila ada kesenjangan terkait perhitungan perusahaan dan keuangan agar menggunakan akuntan publik. Hal itu lebih ideal dari pada dihitung sendiri. Harusnya hal-hal seperti itu sudah diluar pemikiran penyidik. Termasuk diluar pemikiran orang-orang yang mengelola tambang tersebut.

“Disaat pecah kongsi bagaimana mendudukkan permasalahan ini. Disaat rembug sudah tidak bisa, koordinasi sudah tidak bisa, kita gunakan langkah-langkah yang menggunakan rumus yang tidak bisa dibantah lagi, satu tambah satu ya dua, misalnya seperti itu,” ujarnya.

Sementara itu, Polres Klaten belum bisa memberikan keterangan terkait persoalan tersebut. Namun berdasarkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan yang diterima Wisnu Nugroho tertanggal 6 April 2020, penyidik Polres Klaten telah melakukan langkah-langkah, yakni klarifikasi terhadap 14 orang, klarifikasi terhadap terlapor, dan melakukan gelar perkara. Perkara yang dilaporkan belum dapat ditingkatkan ke penyidikan. (Lia)

BERITA REKOMENDASI