Pemesanan Sarung Tenun Goyor Menurun

Editor: KRjogja/Gus

BOYOLALI (KRjogja.com) – Produksi sarung tenun atau kerap disebut sarung goyor, sejak awal tahun menurun jika dibanding tahun sebelumnya. Bulan ramadhan kali ini juga tak mendongkrak permintaan sarung tenun tersebut. 

Kondisi tersebut setidaknya dirasakan salah satu pengrajin, Ani (45), warga ‎Dusun Borongan, Desa Giriroto, Ngemplak. Penurunan tersebut, katanya, sudah dirasakan sejak bulan-bulan terakhir sejak memasuki tahun ini, dimana intensitas produksi sarung oleh penenun tak setinggi tahun-tahun sebelumnya.

"Pengrajin biasanya mendapat pesanan untuk menenun sarung tanpa harus menunggu sebab permintaan banyak. Namun sekarang pengrajin mesti menunggu beberapa hari untuk mendapat pesanan atau borongan pembuatan sarung‎," katanya, Rabu (7/6). 

Selama ini, Ani bersama puluhan pengrajin lain di Desa Giriroto hanya melakukan penenunan yang dilakukan menggunakan alat penenun tradisional yang sama sekali tak menggunakan tenaga listrik. Sementara penentuan motif, penyediaan benang, alat tenun, dan proses lain disediakan oleh pengusaha‎ sarung goyor di wilayah Solo.

Untuk satu buah sarung, ia dibayar Rp 70 ribu. ‎Sarung tenun tersebut ia setor ke pengusaha di Solo untuk selanjutnya dieksport ke jazirah Arab. ‎Dalam sepekan, dalam ritme normal ia mampu menyelesaikan empat buah sarung. Namun bila banyak pesanan, dalam sepekan ia mampu menenun tujuh buah sarung. 

"Bulan ramadhan kali ini pesanannya juga tak seramai bulan puasa tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena kondisi ekonomi atau penyebab lain saya kurang tahu," imbuhnya. 

Di sisi lain, menenun dengan alat tradisional perlu kesabaran yang tinggi. Sebab menjalin benang sesuai dengan motif perlu kecermatan dan ketelitian. Ia sendiri dilatih keahlian menenun saat bekerja di pabrik tekstil. Selama 20 tahun terakhir, ia mampu menambah rejeki keluarga dari hasil menenun yang ia kerjakan di rumahnya. 
"Sarung goyor diminati karena adaptif terhadap cuaca. Sejuk dipakai di tempat panas dan hangat saat cuaca dingin. Nilai seninya juga tinggi sehingga banyak diminati,"tandasnya. (R-11)

BERITA REKOMENDASI