Pemkab Sukoharjo Genjot Produksi Kedelai Petani Lokal

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Pemkab Sukoharjo sudah lama turun membantu perajin tahu dan tempe terkait pemenuhan kebutuhan kedelai sebagai bahan baku. Hal itu ditunjukan dengan melakukan penanaman kedelai oleh petani disejumlah wilayah. Namun hasil panen dan kualitas kedelai dari petani belum mampu memenuhi kebutuhan sehingga perajin sering menggunakan kedelai impor.

Kepala Dinas Pertanian dana Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti, Senin (11/01/2021) mengatakan, Pemkab Sukoharjo sudah lebih dari lima tahun terakhir terus menggenjot produksi kedelai dari petani lokal. Penanaman kedelai diperbanyak dengan menambah luasan lahan di wilayah Kecamatan Weru. Program tersebut bahkan mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat dengan memberikan pendampingan dan bantuan.

Dalam penanaman awal dilakukan di lahan seluas lima hektar dan terus berkembang hingga belasan hektar. Hasil panen kedelai dari petani lokal tersebut tidak sepenuhnya diserap perajin tahu dan tempe. Hal ini dikarenakan para perajin tahu dan tempe mengeluhkan tentang ukuran kedelai yang kecil dibanding kedelai impor.

Faktor lainnya karena kebutuhan kedelai dari perajin tahu dan tempe sangat banyak dan belum mampu dipenuhi petani. Disisi lain, petani juga melakukan penanaman kedelai sebagai sampingan saja saat musim kemarau. Sedangkan disaat hujan tetap melakukan dua kali tanam padi karena lebih menguntungkan.

Pilihan menanam padi disebabkan karena lahan yang digunakan petani terendam air. Apabila dipaksanakan menanam kedelai maka dikhawatirkan tanaman akan mati dan petani mengalami kerugian besar.

“Pemkab Sukoharjo sudah lama turun membantu perajin tahu dan tempe agar kebutuhan bahan baku kedelai terpenuhi dari petani lokal. Tapi kondisi di lapangan memang dilema dimana petani tidak mendapat jaminan hasil panen terserap oleh perajin tahu dan tempe. Selain itu petani juga menyesuaikan cuaca dimana saat hujan tetap memilih menanam padi,” ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Sukoharjo Sutarmo mengatakan, berdasarkan aturan dari Permendag nomor 07/2020 tentang Harga Acuan Pembelian Ditingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan Ditingkat Konsumen ditetapkan harga acuan pembelian di petani untuk kedelai lokal Rp 8.500 per kilogram sedang di konsumen Rp 9.200 per kilogram. Sedangkan kedelai impor harga acuan pembelian petani Rp 6.550 per kilogram dan harga acuan penjualan di konsumen Rp 6.800 per kilogram.

“Perdagangan kedelai lokal ada baik dari petani Sukoharjo maupun didatangkan dari petani daerah lain. Tapi perajin tahu dan tempe memang lebih sering menggunakan kedelai impor,” ujarnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI