Penanganan Kasus Bom Kartasura Diserahkan ke Densus 88

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Kasus dugaan bom bunuh diri di pos polisi tugu Kartasura sepenuhnya ditangani Densus 88 Anti Teror Mabes Polri. Meski begitu Polres Sukoharjo tetap melakukan pendampingan penuh. Sebab dalam dua bulan terakhir wilayah Kartasura sudah digoyang kasus teroris.

Mei lalu Densus 88 Anti Teror Mabes Polri melakukan penangkapan terhadap terduga teroris AG (25) warga Desa Gumpang, Kecamatan Kartasura. Sedangkan Juni ini ada aksi dugaan bom bunuh diri di pos polisi tugu Kartasura dengan terduga pelaku RA (22) warga Desa Wirogunan, Kecamatan Kartasura.

“Sudah ada dua kejadian terduga teroris di wilayah Kecamatan Kartasura. Ini jadi catatan kami Polres Sukoharjo dan tentunya pengamanan wilayah akan semakin diperketat,” ujar Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi, Selasa (04/06/2019).

Kapolres menjelaskan, dua terduga teroris baik AG dan RA sepenuhnya diserahkan ke Densus 88 Anti Teror Mabes Polri. Polres Sukoharjo hanya sebatas melakukan pendampingan penanganan perkara.

Bentuk pendampingan yang sudah dilakukan Polres Sukoharjo seperti saat olah tempat kejadian perkara di pos polisi tugu Kartasura dan penggeledahan di rumah RA di Desa Wirogunan. Pengamanan juga dilakukan anggota Polres Sukoharjo dengan melakukan penjagaan di rumah RA.

“Soal perkembangan terduga teroris AG ataupun sekarang RA mereka terlibat jaringan apa kami serahkan ke Densus 88. Khusus untuk RA karena sudah ada aksi berupa bom di pos polisi maka Polres Sukoharjo akan melakukan pengamanan penuh di Sukoharjo,” lanjutnya.

Polres Sukoharjo sendiri terus melakukan pengetatan pengawasan mengingat ada 16 orang eks narapidana teroris (napiter) yang tinggal di Sukoharjo. Keberadaan mereka terus dipantau dengan menerjunkan satu orang anggota untuk memantau satu orang eks napiter.

Pendampingan secara khusus dilakukan personil Polres Sukoharjo sebagai upaya deradikalisasi agar para eks napiter tidak masuk ke jaringan teroris kembali. Dengan demikian maka mereka bisa diarahkan ke hal positif.

“Sesuai instruksi pimpinan bahwa eks napiter dipatau satu orang anggota secara man to man. Pemantauan dilakukan oleh anggota intelejen melekat,” lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI