Peneliti Jepang Tertarik Pertanian Modern Sukoharjo

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Pertanian modern di Sukoharjo dilirik tiga peneliti asal Jepang dari The Japanese Institute Of Irrigation dan Drainage (JIID). Tiga orang peneliti yakni Ichiro Tsurusoki dari JICA Expert, Toshihide Matsui dan Akira Hashimoto keduanya dari JIID Jepang datang ke Sukoharjo dan ditemui langsung Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya, Rabu (4/10/2017).

Ketiga peneliti asal Jepang datang ke kantor Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo. Mereka mengungkapkan ketertarikannya terhadap pertanian di Sukoharjo kepada Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya.

Pimpinan rombongan peneliti asal Jepang Akira Hashimoto melalui penterjemah mengatakan, peneliti Jepang mengetahui program modernisasi pertanian di Sukoharjo melalui berbagai media massa sejak dua tahun lalu. Program modernisasi pertanian di Sukoharjo semakin maju sampai sekarang.
Informasi tersebut membuat tiga orang peneliti Jepang sengaja datang ke Sukoharjo. Mereka ingin mengetahui dari dekat secara langsung mengenai perubahan program pertanian dari tradisional ke modern.

“Bagaimana cara merubah pertanian konvensional atau tradisional ke modern diterapkan di Sukoharjo. Peneliti Jepang ini sangat tertarik ke Sukoharjo,” ujar Akira Hashimoto melalui penterjemah.

Peneliti asal Jepang juga tertarik mengenai prospek kondisi kesejahteraan petani setelah beralih sistem dari tradisional ke modern. Apakah ada peningkatan atau tidak karena sebagian besar pertanian sudah digerakan mesin.

“Tadi para peneliti Jepang ini berbicara dengan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti ditemukan kendala pertanian modern yakni kondisi tanah pertanian tidak rata dan berpengaruh pada sistem pengairan. Ini juga jadi tantangan dan menarik perhatian peneliti Jepang,” lanjutnya.

Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya saat menemui tiga peneliti Jepang langsung melakukan diskusi melalui penterjemah mengatakan, memang benar kendala pertanian modern hanya kondisi tanah tidak rata. Akibatnya sistem pengairan menjadi masalah dan harus segera dicarikan solusi.

“Lahan sawah harus diratakan. Petani keberatan soal biaya dan harus dipikirkan bersama dengan pemerintah untuk dicarikan solusi,” ujarnya.

Bupati mengatakan, para petani di Sukoharjo sangat senang dan mendukung program pertanian modern. Sebab bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Apalagi Kabupaten Sukoharjo menjadi daerah yang diandalkan pemerintah pusat sebagai lumbung pangan nasional.

Pertanian modern di Sukoharjo dijalankan di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari. Disana para pelaksanaan awal hanya dikerjakan 28 hektar, namun sekarang bertambah menjadi 170 hektar.

Perluasan pertanian modern juga akan dilakukan di wilayah lain yakni di Kecamatan Mojolaban dan Weru. Kedua wilayah tersebut sedang melakukan persiapan khususnya berkaitan dengam lahan.

“Sistem pertanian modern menguntungkan petani karena dari satu hektar yang dulu dikerjakan tradisional hanya mampu menghasilkan 7-8 ton maka sekarang naik menjadi 10 ton,” lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI