Permohonan Praperadilan Kematian Siyono Ditolak

KLATEN, KRJOGJA.com – Permohonan prapredalian  Suratmi, istri almarhum Siyono (terduga teroris) warga Brengkungan, Pogung, Cawas, Klaten, terhadap Polres Klaten, ditolak Pengadilan Negeri Klaten.

Hakim tunggal praperadilan Kurnia Dianta Giting,  dalam putusan yang dibacakanya Selasa (26/3) menyatakan menolak permohonan praperadilan Suratmi. Ia juga menilai permohonan praperadilan itu prematur atau terlalu dini, karena  proses hukum dari perkara kematian Siyono hingga saat ini masih dalam tahap penyelidikan, belum ditingkatkan pada tahap penyidikan. Hakim juga membebankan biaya perkara pada pemohon.

Salah seorang tim kuasa hukum pemohon, Trisno Raharjo menyatakan menghormati putusan praperadilan, dan berterimakasih pada hakim pemeriksa prareradilan. Hal ini dikarenakan,  sebelum amar putusan hakim menyatakan penyelidik harus sungguh-sungguh memperhatikan perkara tersebut. Selain itu, juga ada batas waktu kadaluwarsa dalam hukum pidana.

“Kami menghormati putusan ini, dan berterimakasih pada hakim pemeriksa.  Walaupun ditolak, tapi kami menangkap esensi keadilan yang ditunjukkan oleh hakim praperadilan dalam pertimbanganya,” kata Trisno Raharjo.

Lebih lanjut Trisno Raharjo menegaskan, penyelidik harus professional. Tidak perlu waktu hingga setahun, jika semua pihan terkait dipanggil, maka penyelidik sudah bisa meningkatkan perkara tersebut menjadi penyidikan.

Trisno Raharjo menyatakan, penyelidik wajib memanggil seluruh anggota Densus 88 yang melakukan penangkapan terhadap Siyono, yang mengawal  Siyono dan anggota Polri yang membawa jenazah Siyono dari Klaten ke Jakarta.

“Selain itu, petugas kedokteran di RS Bhayangkara pusat yang melakukan CT scan terhadap jenazah Siyono juga harus diperiksa. Komisioner  HAM yang saat dilakukan otopsi jenazah siyono juga harus dipanggil dan diperiksa, karean atas perintah Komnas HAM otopsi itu dilakukan.” Tandas Trisno Raharjo.

Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi megemukakan, dengan ditolaknya permohonan tersebut, artinya polisi tetap professional dalam melakukan penyelidikan. Dalam proses penyelidian harus ditemukan alat bukti yang mendukung. Penyidik tidak bisa bermain-main dalam perkara tersebut.

Kapolres juga menegaskan, bahwa peoses penyelidikan yang dilakukan terus berjalan, karena penyelidikan tak ada batas waktu, sampai mendapatkan alat bukti. Pihaknya akan melakukan proses penyelidikan selanjutnya, sehingga nanti ada kekuatan hukum berkait kelanjutan kasus tersebut. Kapolres berharap keaaurga bisa bekerjasama dengan penyelidik, dengan memberikan informs, sehingga kasus itu bisa diselesaikan.

“Dalam kasus ini yang paling penting menemukan sebab kematian, maka nanti akan kita koordinasikan. Terkait langkah selanjutnya proses penyelidikan ini, akan dicari penyebab kematian. Praperadilan ini langkah kontrol dari masyarakat” kata Kapolres. (Sit)

BERITA REKOMENDASI