Petani Sawah Tadah Hujan Kekurangan Air

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Sawah tadah hujan disejumlah wilayah di Sukoharjo kekurangan air. Petani khawatir kondisi tersebut berpengaruh pada tanaman mengingat sekarang sudah berbulir. Bahkan beberapa diantaranya siap panen dalam waktu satu atau dua pekan kedepan.

Petani Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Purwiyono, Kamis (06/07/2017) mengatakan, hujan sudah tidak turun sejak seminggu sebelum lebaran hingga sekarang. Akibatnya kondisi sawah menjadi kering karena sepenuhnya mengandalkan air dari hujan.

Kondisi tersebut membuat petani terpaksa harus mencari air sendiri melalui sumur pantek. Dalam satu hari harus mengeluarkan biaya ratusan ribu rupiah. Biaya dikeluarkan untuk sewa mesin diesel dan bahan bakar. “Seminggu lagi tanaman padi saya panen tapi kondisi sawah kering kekurangan air karena sudah lama tidak turun hujan,” ujar Purwiyono.

Perubahan cuaca yang sulit ditebak membuat petani sawah tadah hujan harus bekerja keras. Sebab air sepenuhnya bergantung pada hujan. Apabila tidak maka terpaksa mencari sumber air sendiri dari sumur pantek. “Tidak ada aliran irigasi disini jadi air kami dapat melalui sumur pantek,” lanjutnya.

Perawatan ekstra terpaksa harus dilakukan petani agar hasil panen bisa maksimal. Petani berharap nantinya harga jual juga tidak anjlok menginggat pada Juli ini akan terjadi panen raya.

“Sampai panen nanti terpaksa keluar biaya lebih untuk perawatan. Semoga hasil panen baik dan harga jual gabah tinggi,” lanjutnya.

Petani Desa Mayang, Kecamatan Gatak Sarinem mengatakan, kondisi sawahnya sekarang kering dan berpengaruh pada tanaman padi. Hal tersebut terjadi karena sudah lebih dari dua pekan tidak turun hujan.

“Tanaman padi saya 30 hari lagi baru bisa panen. Kalau tidak dirawat ekstra maka bisa mati dan rugi. Mau tidak mau terpaksa cari air sendiri agar tetap hidup,” ujarnya.

Sarinem mengatakan, sedikit terbantu karena sudah memiliki mesin diesel sendiri. Kebutuhan biaya ekstra hanya dikeluarkan untuk membeli bahan bakar saja. “Sehari butuh lebih dari satu jeriken sekitar 10 0 20 liter untuk mengairi sawah dari sumur pantek,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan, cuaca sekarang memang sulit ditebak. Dampak paling berpengaruh dirasakan petani sawah tadah hujan.

Petani tersebut harus bersiap mencukupi kebutuhan air untuk tanaman padinya. Sedangkan petani diwilayah aliran saluran irigasi terbantu karena sudah mendapatkan jaminan suplai air.

Petani sawah tadah hujan sudah mendapatkan fasilitas kemudahan dari Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo dengan peminjaman alat berupa mesin diesel. Mesin tersebut bisa dipakai untuk menyedot air dari sumur pantek.

“Sawah tadah hujan memang perawatannya sedikit sulit apabila kondisi cuaca sulit ditebak seperti sekarang. Pada awal Juni lalu yang diperkirakan panas justru beberapa kali turun hujan. Sedangkan awal Juli ini cuaca sangat panas dan berpengaruh pada kondisi tanaman padi khususnya pada sawah tadah hujan,” ujarnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI