Petani Sukoharjo Minta Penutupan Pintu Air Dam Colo Ditunda

Editor: Ivan Aditya

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) dialiran Dam Colo Barat dan Dam Colo Timur meminta kepada Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) sebagai pengelola Dam Colo untuk menunda rencana penutupan pintu air dari 1 Oktober menjadi 15 Oktober. Permintaan dilakukan untuk menyelematkan ribuan hektar tanaman padi agar tidak gagal panen. Apabila gagal panen terjadi mareka kerugian besar harus ditanggung petani nilainya mencapai miliaran rupiah.

Ketua Induk (P3A) Dam Colo Barat Hardo Wiyono, Jumat (15/09/2017) mengatakan, permintaan penundaan penutupan pintu air Dam Colo sudah bulat dari petani. Pengurus Induk P3A Dam Colo Barat sudah berkumpul untuk sepakat dengan satu permohonan kepada BBWSBS.

Seperti diketahui pintu air Dam Colo yang bangunannya di wilayah Kecamatan Nguter ditutup pihak pengelola yakni BBWSBS untuk perawatan rutin tahunan. Penutupan dilaksanakan selama satu bulan penuh. Dampaknya air tidak mengalir. Setelah selesai maka pintu air kembali dibuka dan air mengalir normal ke sawah petani.

Hardo melanjutkan, posisi tanaman padi di wilayah Dam Colo Barat antara 70 hari sampai 80 hari. Dengan usia tanam tersebut maka sangat membutuhkan air agar bisa panen. Karena itu apabila Dam Colo ditutup maka dikhawatirkan terjadi gagal panen.

“Posisi sekarang MT III padi dan sebentar lagi panen. Jadi petani meminta agar rencana penutupan pintu air Dam Colo ditunda 15 hari supaya bisa panen,” ujar Hardo Wiyono.

Di wilayah Dam Colo Barat total ada sekitar 4 ribu hektar lahan pertanian ditanami padi. Petani sangat mengandalkan air dari Dam Colo. “Kami sudah berembuk dan akan menyampaikan secara resmi ke BBWSBS dengan bentuk surat permohonan,” lanjutnya.

Petani di aliran Dam Colo Barat sudah mengajukan permohonan ke Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo. Hardo Wiyono mengatakan, Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo satu suara dengan petani untuk meminta penundaan penutupan pintu air Dam Colo.

“Aliran air dari Dam Colo tidak hanya untuk Sukoharjo namun juga dipakai petani di Wonogiri, Klaten, Sragen bahkan sampai Ngawi. Total ribuah hektar dan butuh air. Kalau satu hektar panen padi petani katakanlah laku Rp 20 juta maka berapa kerugian semua petani terdampak yang jumlahnya ribuan hektar bisa miliaran rupiah,” lanjutnya.

Ketua P3A Dam Colo Timur Jigong Sarjanto mengatakan, petani di wilayah Dam Colo Timur juga meminta penundaan penutupan pintu air Dam Colo. Sebab petani sangat membutuhkan air dari Dam Colo agar tanaman padi bisa terselamatkan sampai panen.

“Di wilayah aliran Dam Colo Timur ada sekitar 20 ribu lebih hektar. Petani butuh air agar tanaman padi bisa panen. Kalau ditutup bisa berdampak gagal panen,” ujarnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI