Petani Tunggu Air, MT I Padi Kemungkinan Mundur Januari

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Hujan yang turun belum mampu memenuhi kebutuhan petani untuk melakukan tanam padi. Sebab debit air sekarang sangat minim padahal sudah masuk awal Desember. Awal musim tanam (MT) I padi kemungkinan baru bisa dilakukan petani pada Januari 2020 mendatang.

Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo Timur, Jigong Sarjanto, Minggu (1/12/2019) mengatakan, kondisi sekarang memang sudah turun hujan disejumlah wilayah. Namun kondisi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan air bagi petani. Sebab debit masih sangat minim seperti terlihat di Dam Colo, Nguter. Selain itu juga di sepanjang aliran saluran irigasi masih kering. Akibatnya petani belum melakukan apapun baik olah tanah atau tanam padi.

Penyebab kondisi ini karena faktor curah hujan masih rendah sehingga kebutuhan air petani belum terpenuhi. Kondisi ditambah dengan dampak cuaca panas yang masih terjadi beberapa hari terakhir menyebabkan penguapan air cepat terjadi.

"Normalnya pada akhir November atau paling lambat awal Desember semua petani sudah melakukan MT I padi. Tapi sekarang belum apapun karena memang faktor masih kekurangan air. Hujan memang sudah turun tapi intensitasnya masih rendah," ujarnya.

Pengurus P3A Dam Colo Timur terus memantau kondisi air di Dam Colo, Nguter termasuk sepanjang aliran irigasi. Pemantauan juga dilakukan dengan melihat langsung sawah petani. Hal itu penting sebagai bagian dari kesiapan menghadapi MT I padi.

"Keluhan petani sudah banyak masuk ke kami tapi mau bagaimana kondisi sekarang disebabkan faktor alam dampak kemarau panjang dan curah hujan rendah," lanjutnya.

MT I padi diperkirakan P3A Dam Colo Timur akan terjadi pada Januari 2020 mendatang menunggu peningkatan curah hujan. Meski demikian musim tanam tersebut belum menjadi jaminan karena petani masih mengandalkan alam untuk memenuhi kebutuhan air.

Dampak yang akan terjadi apabila petani baru melakukan MT I padi pada Januari 2020 mendatang yakni membuat musim panen ikut mundur. Kondisi tersebut menyebabkan pengaruh pada pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat dan harga beras di pasaran. 

"Kalau tanam saja mundur tentu berdampak pada panen ikut mundur. Kami minta petugas terkait mengantisipasi kerawanan masalah ini jangan sampai terjadi kerawanan atau kenaikan di luar kendali harga beras," lanjutnya.

Jigong menambahkan, konflik rebutan air sangat mungkin terjadi antar pertani disepanjang aliran Dam Colo, Nguter. Air dari Dam Colo, Nguter sendiri dialirkan melintasi sejumlah daerah meliputi, Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, Sragen hingag Ngawi, Jawa Timur. Puluhan ribu hektar lahan pertanian digarap ribuan petani.

Banyaknya pengguna dari Dam Colo, Nguter membuat kerawanan konflik rebutan air sangat besar. Hal tersebut dipicu karena kondisi sekarang di Dam Colo, Nuter stok air sangat terbatas. Penyebab utamanya dipengaruhi kemarau panjang dan belum turun hujan.

Nantinya setelah hujan turun dan debit air Dam Colo, Nguter kembali terisi maka harus dimaksimalkan pemanfaatannya. Air didistribusikan secara teknis sesuai dengan kebutuhan petani. Dengan demikian petani baik dari hulu hingga hilir bisa merata mendapatkan pasokan air dari Dam Colo, Nguter.

Apabila pengaturan teknis distribusi air dari Dam Colo, Nguter tidak merata maka menyebabkan terjadinya konflik antar petani. Kerawanan tersebut tidak hanya menyebabkan keributan saja, namun juga kegagalan panen padi petani.

“Air menjadi kebutuhan sangat pokok bagi petani agar bisa tetap tanam padi. Apalagi melihat kondisi sekarang debit di Dam Colo, Nguter sangat terbatas. Karena itu kerawanan konflik rebutan air harus disikapi sejak dini,” lanjutnya. (Mam)

 

BERITA REKOMENDASI