Peternak Dapat Rp 6 Ribu Perhari dari ‘Tlethong’ Sapi

Editor: Ivan Aditya

KLATEN, KRJOGJA.com – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) bersama mitra Science Techno Park (STP) dan Agro Techno Park (ATP) bertemu di Klaten 2-3 Desember 2019. Hasil produk yang berhasil dikreasi selama empat tahun terakhir dievaluasi dengan tujuan akhir melihat sejauh mana peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Seluruh ATP dan STP yakni Nasional STP (PAIR), ATP Musi Rawas, ATP Polewali Mandar, dan ATP Klaten ikut serta dalam pertemuan tersebut. Masing-masing membawa hasil khas inkubasi teknologi dari adaptasi nuklir untuk kehidupan.

Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat menyebut saat ini padi Rojolele Srinar dan Srinuk dari Klaten sudah disertifikasi dan siap dipasarkan ke publik. Tahun 2020 mendatang, daerah lain seperti Musi Rawas dan Polewali Mandar akan menyusul dengan varietas padi lokal seperti Dayang Rindu dan Kamanyan yang dipadukan dengan teknologi nuklir.

“Di Klaten padi Srinuk dan Srinar sudah dilaunching langsung oleh Bupati Klaten, tahun 2020 nanti Musi Rawas ada Dayang Rindu dan Polewali akan menyusul. Tanaman padi itu lebih tahan hama dan punya masa panen lebih singkat dengan hasil lebih banyak dari varietas Rojolele biasa. Harapan kami hal ini bisa membawa manfaat penuh untuk masyarakat dalam hal ini petani,” ungkapnya dalam pembukaan Senin (2/12/2019) malam.

Totti juga mengungkap di Klaten tepatnya Puluhan, Trucuk, PAIR juga membantu masyarakat peternak untuk membangun sistem berkelanjutan yang membawa keuntungan peternak. “Di sana, ternak diberi makan hasil limbah pertanian, lalu berputar lagi limbah peternakan menjadi pertanian lagi dalam bentuk pupuk,” sambung dia.

Dari tlethong atau kotoran sapi sendiri, peternak kini bisa mendapatkan Rp 6 ribu per ekor selama satu hari. Kotoran sapi diolah menjadi pupuk dan nantinya digunakan kembali untuk pertanian.

“Peternak punya nilai hasil yang bisa dirasakan, Rp 6 ribu per hari dari tlethong sapi untuk diolah menjadi pupuk. Ini yang kami harapkan bisa membawa bermanfaat,” ungkapnya lagi. 

Kepala Bappeda Kabupaten Klaten Sunarna sendiri menyatakan padi Srinar dan Srinuk dikembangkan enam tahun lalu bersama BATAN melalui radiasi nuklir. Tak hanya itu, untuk peternakan juga mulai merasakan manfaat dengan adanya pakan ternak fermentasi yang bisa menambah gizi sapi.

“Ada komposer dari BATAN juga, untuk fermentasi kotoran sapi dan nantinya terurai jadi pupuk tanaman. Ini yang dijual Rp 6 ribu itu. Jerami sendiri juga difermentasi selama 21 hari baru diberikan pada sapi, dan lebih bergizi untuk sapinya,” ungkap Sunarna.

Deputi Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) BATAN, Efrizon Umar menambahkan hasil terapan nuklir sendiri sangat banyak ragamnya. Meski tak lagi mendapat anggaran pemerintah, nantinya BATAN tetap berkomitmen membantu ATP untuk bergerak maju memajukan masyarakat.

“Sudah banyak hal-hal yang dilakukan bersama dalam pengembangan ATP dan STP, ini merupakan modal yang kuat untuk melangkah kedepan. BATAN akan selalu mendukung kegiatan yang terkait dengan pengembangan ATP dan STP. Harapannya akan tetap berjalan lima tahun kedepan,” ungkap Efrizon. (Fxh) 

BERITA REKOMENDASI