Puncak Musim Hujan, Masyarakat Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Bencana Alam

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Masyarakat tetap diminta waspada terhadap semua potensi bencana alam yang bisa terjadi sekarang. Sebab cuaca sangat sulit diprediksi ditambah lagi kondisi alam yang harus terus dipantau sebagai antisipasi munculnya bencana baik banjir, tanah longsor dan angin kencang. Puncak musim hujan sendiri diprediksi terjadi pada Februari-Maret mendatang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto, Rabu (12/2/2020) mengatakan, kondisi di Sukoharjo semua petugas terkait dari tim gabungan sudah bersiap melakukan penanganan bencana alam. Disisi lain belum ada kejadian banjir dan tanah longsor selama musim hujan sekarang. Bencana alam baru muncul dan didominasi angin kencang disejumlah wilayah. Akibat kejadian tersebut menyebabkan sejumlah kerusakan bangunan dan pohon tumbang.

BPBD Sukoharjo mengingatkan pada masyarakat untuk tetap waspada terhadap segala potensi bencana alam. Meski kondisi sekarang belum ada temuan banjir dan tanah longsor, namun kewaspadaan penuh tetap harus dilakukan. Sebab selama dua bulan kedepan terhitung Februari-Maret diprediksi merupakan puncak musim hujan.

Dalam kondisi ini BPBD Sukoharjo memprediksi segala kemungkinan bencana alam bisa terjadi seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang. Beberapa wilayah sudah dipetakan petugas rawan terjadi bencana alam. Masyarakat disana diingatkan untuk selalu waspada.

“Cuaca sangat sulit diprediksi. Terhitung sekarang Februari hingga Maret nanti diprediksi merupakan puncak musim hujan. Dalam kondisi ini masyarakat diminta waspada terhadap segala potensi bencana alam,” ujarnya.

Kewaspadaan bisa dilakukan masyarakat dengan melakukan pemantauan bersama dan menjaga lingkungan. Masyarakat bisa memantau dengan melihat tanda alam seperti debit air Sungai Bengawan Solo dan sungai lainnya. Hal serupa juga bisa dilakukan dengan melihat ada tidaknya retakan tanah di bukit.

“Itu untuk bentuk kewaspadaan banjir dan tanah longsor. Sedangkan kewaspadaan angin kencang bisa dilakukan dengan memangkas ranting pohon agar tidak terjadi pohon tumbang dan membahayakan warga,” lanjutnya.

Sri Maryanto menjelaskan, sekarang sudah ada peningkatan curah hujan disemua wilayah di Sukoharjo. Hal itu berdampak pada naiknya debit air Sungai Bengawan Solo dan sungai lainnya. Kondisi tersebut menyebabkan potensi kerawanan banjir meningkat.

Beberapa wilayah di Sukoharjo masuk rawan banjir seperti Kecamatan Weru, Nguter, Bendosari, Sukoharjo, Grogol, Mojolaban dan Polokarto. Kerawanan muncul karena wilayah tersebut berada di aliran Sungai Bengawan Solo dan sungai lainnya.

Di wilayah rawan banjir tersebut BPBD Sukoharjo sudah memberikan pelatihan seperti evakuasi diri dan barang. Selain itu juga dibuatkan jalur evakuasi dari rumah ke tempat aman posko pengungsian.

Sebagai bentuk peringatan dini bencana alam banjir BPBD Sukoharjo sudah memasang early warning system (EWS) disepanjang aliran Sungai Bengawan Solo dan titik lainnya. Pemasangan dilakukan sebagai alat untuk diandalkan memberikan peringatan dini terhadap ancaman bencana alam khususnya banjir. Keberadaan EWS sangat penting mengingat sekarang curah hujan mengalami peningkatan.

Total ada lima EWS sudah dipasang BPBD Sukoharjo disebar disejumlah tempat. Titik pemasangan masing masing satu unit berada di Dam Colo Pengkol – Nguter, Serenan – Sukoharjo, Bacem – Grogol, Peren – Pranan dan Laban – Mojolaban. EWS dipasang pada tempat yang memiliki tingkat kerawanan banjir tinggi di Sukoharjo. Lokasi tidak hanya di Sungai Bengawan Solo saja, melainkan juga di Dam Colo, Pengkol, Nguter karena menjadi sumber tampungan sekaligus aliran air dari Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri.

Titik pemasangan EWS juga dilakukan BPBD Sukoharjo di wilayah perbatasan. Seperti di Serenan, Kabupaten Klaten dengan wilayah Kecamatan Sukoharjo, Sukoharjo. Hal sama juga dilakukan di Desa Laban, Kecamatan Mojolaban yang dekat dengan titik pantau di Kota Solo dan Kabupaten Karanganyar.

BPBD Sukoharjo dalam hal antisipasi tanah longsor juga telah melakukan pemantauan. Sasaran pertama dilakukan di wilayah dengan karakter memiliki perbukitan atau pegunungan seperti di selatan Sukoharjo. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu. Selain itu juga dilakukan petugas di wilayah Kecamatan Nguter, Bendosari dan Polokarto.

Hasil pemantauan diketahui petugas menemukan beberapa titik retakan tanah di wilayah selatan Sukoharjo meliputi Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu. Temuan didapati di kawasan perbukitan dengan luasan bervariasi.

Penyebab terjadinya retakan tanah lebih disebabkan faktor cuaca panas akibat kemarau panjang. Tenah terlihat retak dibeberapa bagian sisi sehinggal menimbulkan kerawanan saat musim hujan datang.

“Retakan tanah atau sela rongga tanah itu pada saat hujan datang akan kemasukan air. Kondisi tanah yang kering kemudian diguyur hujan akan menyebabkan kerawanan terjadinya tanah longsor,” lanjutnya.

Temuan retakan tanah juga didapati petugas disepanjang bantaran atau tebing sungai yang belum memiliki pengaman berupa talud. Seperti ditemukan BPBD Sukoharjo disepanjang aliran Sungai Bengawan Solo dan Kali Samin. Apabila hujan datang tanah tersebut rawan longsor dan membahayakan warga.

“BPBD Sukoharjo sejak awal sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan memberikan peringatan keras kewaspadaan ancaman tanah longsor disebabkan karena muncul retakan tanah dampak kemarau panjang,” lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI