Semakin Langka, Penggunaan Elpiji 3 Kilogram Diduga Salah Sasaran

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Dugaan pelanggaran penggunaan elpiji 3 kilogram masih marak terjadi di Sukoharjo. Sebab gas tersebut disetor dan digunakan oleh bukan pengguna resmi atau masyarakat miskin melainkan tempat usaha besar. Salah satunya seperti didapati di rumah makan besar di wilayah Kecamatan Sukoharjo Kota.

Sapto salah satu pemilik usaha penjualan elpiji 3 kilogram mengatakan, pihaknya sudah lama mengirim gas ke salah satu rumah makan di Sukoharjo Kota. Dalam satu minggu melakukan dua kali pengiriman gas masing masing sebanyak 15 tabung atau total 30 tabung.

Jumlah tersebut sesuai dengan pesanan dari rumah makan untuk pengiriman. Bahkan jumlahnya bisa berubah menyesuaikan dengan kebutuhan.

“Pengiriman bisa bertambah atau berkurang sesuai permintaan rumah makan. Tapi semua dikirim elpiji 3 kilogram,” ujar Sapto.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Sukoharjo Sutarmo mengatakan, pengguna elpiji 3 kilogram hanya khusus untuk masyarakat miskin. Hal itu seperti tertera pada bagian tabung gas.
Disinggung soal penyalahgunaan elpiji 3 kilogram disalah satu rumah makan, Sutarmo mengatakan, belum mengetahuinya. Ditegaskannya untuk usaha yang diperbolehkan menggunakan elpiji 3 kilogram yakni usaha mikro kecil.

“Warung kecil masih diperbolehkan menggunakan elpiji 3 kilogram,” lanjutnya.

Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Sukoharjo akan terus melakukan pemantauan. Termasuk juga pengecekan berkaitan dengan penggunaan elpiji 3 kilogram.

Sementara itu kuota elpiji 3 kilogram untuk Kabupaten Sukoharjo selama Desember mengalami kenaikan 2,4 persen. Apabila sebelumnya pada November kuota yang didapat hanya 773.960 tabung maka Desember naik menjadi 792.760 tabung.

“Kebutuhan elpiji 3 kilogram untuk masyarakat aman. Sebab Desember ini ada kenaikan pengiriman 2,4 persen dari sebelumnya 773.960 tabung menjadi 792.760 tabung,” lanjutnya.

Kenaikan pasokan elpiji 3 kilogram diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab sebelumnya muncul keluhan kelangkaan gas. Hal tersebut terjadi salah satunya karena adanya kenaikan kebutuhan. Selain itu juga diduga karena penggunaan elpiji 3 kilogram tidak tepat sasaran.

Elpiji 3 kilogram yang seharusnya sesuai aturan dipakai untuk masyarakat miskin justru digunakan oleh kalangan menengah ke atas. Hal tersebut sesuai dengan pengakuan sejumlah pengecer yang ditemui petugas.

“Pengawasan penggunaan elpiji 3 kilogram tetap dilakukan secara ketat dengan melibatkan petugas gabungan. Tujuanya agar penggunaan tepat sasaran,” lanjutnya.

Pengawasan juga dilakukan petugas berkaitan dengan harga jual di pasaran. Masyarakat harus menerima elpiji 3 kilogram sesuai dengan ketentuan harga dari pemerintah. (Mam)

BERITA REKOMENDASI