Sembilan Orang Meninggal, Jumlah Kasus DBD di Sukoharjo Naik

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sukoharjo mengalami kenaikan ditengah pandemi virus Corona dan cuaca ekstrem dampak dari fenomena alam La Nina. Kenaikan terjadi baik secara akumulasi kasus maupun jumlah meninggal dunia. Masyarakat diminta untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk menekan angka penyebaran kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo Yunia Wahdiyati, Selasa (16/11/2021) mengatakan, DKK Sukoharjo pada tahun 2020 lalu mencatat kasus DBD sebanyak 182 kasus dengan tujuh kasus diantaranya meninggal dunia. Sedangkan pada tahun 2021 ini jumlah kasus DBD hingga bulan November diketahui sebanyak 195 kasus dan sembilan kasus diantaranya meninggal dunia. Angka kasus DBD pada tahun ini diperkirakan masih bisa mengalami perubahan penambahan hingga akhir Desember mendatang.

DKK Sukoharjo melihat kenaikan angka kasus DBD pada tahun 2021 dibanding tahun 2020 disebabkan salah satu faktornya karena perubahan cuaca berupa peningkatan curah hujan dampak dari fenomena alam La Nina. Hujan menyebabkan terjadinya genangan air dan menjadi sumber perkembangbiakan nyamuk.

Kenaikan kasus DBD ditengah perubahan cuaca ekstrem dan pandemi virus Corona menjadi catatan khusus DKK Sukoharjo. Sebab DKK Sukoharjo ditengah fokus penanganan pandemi virus Corona juga tetap memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat termasuk berkaitan kasus DBD.

“Kasus DBD pada tahun 2021 mengalami kenaikan dibanding tahun 2020 ditengah pandemi virus Corona. DKK Sukoharjo tetap memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat,” ujarnya.

DKK Sukoharjo meminta pada masyarakat menjaga kondisi lingkungan ditengah pandemi virus Corona dan musim hujan. Genangan air harus dibersihkan agar tidak digunakan sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk. Masyarakat juga diminta tetap menjaga perilaku hidup bersih dan sehat agar tidak mudah terkena DBD.

Yunia meminta pada masyarakat juga untuk menerapkan kebiasaan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kegiatan ini menjadi salah satu bagian penting menghindari terjadinya DBD di masyarakat.

“Penanganan DBD tetap kami lakukan. Masyarakat juga diminta tetap menggerakkan PSN dan perilaku hidup bersih dan sehat,” lanjutnya.

Gerakan PSN bisa dilakukan baik perorangan maupun melalui lingkungan setempat. Cara tersebut dianggap lebih maksimal mematikan jentik nyamuk sebagai sumber penyebaran DBD.

“Di rumah dan lingkungan harus bersih semua. Jangan ada genangan air mengingat sekarang musim hujan. PSN harus dilakukan bersama,” lanjutnya.

DKK Sukoharjo sudah menerjunkan petugas ditingkat kecamatan hingga desa dan kelurahan untuk melakukan pemantauan dan penanganan DBD termasuk pelayanan kesehatan masyarakat. Puskesmas juga di gerakan termasuk dalam penanganan pandemi virus Corona.

DKK Sukoharjo sudah meminta petugas medis ditingkat kecamatan dan desa untuk selalu siap. Termasuk Puskesmas untuk siaga dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dalam penanganan terhadap DBD masyarakat diminta aktif dan tidak terlambat melakukan pemeriksaan.

“Terlambat dalam penanganan tentunya akan membahayakan nyawa karena DBD bisa menyebabkan meninggal dunia,” lanjutnya.

DKK Sukoharjo memastikan semua fasilitas pelayanan kesehatan disemua wilayah berfungsi memberikan pelayanan pada masyarakat. Meski ditengah pandemi virus corona, namun Yunia menegaskan kasus DBD juga dilakukan penanganan maksimal.

Langkah pencegahan peningkatan DBD sudah dilakukan DKK Sukoharjo dengan melakukan fogging atau pengasapan dibeberapa wilayah. Petugas berharap nyamuk dewasa penyebab DBD bisa mati dan menekan kasus. Disisi lain masyarakat juga diminta aktif melakukan pemberantasan jentik nyamuk sebelum muncul penyakit. (Mam)

BERITA REKOMENDASI