Seni Karawitan, Tersisih di Rumah Sendiri

Editor: Ivan Aditya

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Karawitan, sebuah bentuk seni musik dan tembang hasil olah rasa masyarakat Jawa, ternyata berkembang pesat di luar negeri, salah satunya dimanfaatkan untuk terapi. Sayangnya, kesenian lokal tersebut kini makin terpinggirkan di rumahnya sendiri.

Aji Wijaya, pelaku seni dari Padepokan Seni Wijaya Nusantara disela penyelenggaraan Festival Karawitan se-Boyolali yang digelar di Pendapa Kantor Kantor Kecamatan Banyudono, Senin (25/09/2017) mengatakan, karawitan saat ini berkembang di luar negeri, terutama di Amerika dan Eropa. Selain dinikmati sebagai bentuk kesenian, olah suara dari komposisi gamelan tersebut juga digunakan untk terapi tahanan di berbagai negara di Eropa.

Populernya karawitan juga terlihat dari banyaknya festival karawitan di benua biru tersebut. Bulan ini di London, ibu kota Inggris, terang Aji, diselenggarakan festival gamelan yang diikuti puluhan kelompok. Padahal di KBRI hanya punya seperangkat gamelan saja, sehingga gamelan tersebut dipakai secara bergiliran. "Di luar negeri, seni karawitan mendapat sambutan luar biasa," terangnya.

Berbanding terbalik, seni karawitan di Indonesia saat ini dinilai turun pamor, kalah dengan budaya modern. Ketua panitia festival, Jumali menuturkan, Seni karawitan saat ini mulai terpinggirkan, terutama di kalangan anak muda yang seyogyanya menjadi generasi penerus penjaga kebudayaan lokal.

Sebagai salah satu upaya menjaga kelestariannya, pihaknya menyelenggarakan festival karawitan yang diikuti 15 kelompok, yakni empat kelompok untuk kategori umum, masing-masing tiga kelompok tingkat SMP dan SMA, dan lima kelompok tingkat SD. Diharapkan, keikutsertaan pelajar dalam festival ini bisa meningkatkan animo dan kecintaan generasi muda untuk peduli seni kebudayaan dan tradisi lokal sejak dini.

"Festival kali ini merupakan yang kelima kalinya dan diselenggarakan untuk nguri-uri budaya Jawa, khususnya karawitan," tandasnya. (Gal)

BERITA REKOMENDASI