Sepi Pementasan, Perajin Wayang Kulit Minim Pesanan

SUKOHARJO,KRJOGJA.com – Perajin wayang kulit di Sukoharjo sekarang sepi orderan baik dari dalang maupun konsumen lainnya. Penyebabnya karena menurunnya pementasan wayang kulit disejumlah wilayah.

Perajin wayang kulit asal Kelurahan Sonorejo, Kecamatan Sukoharjo Kota, Marwanto, Kamis (8/6/2017) mengatakan, posisi sekarang perajin wayang kulit saat puasa ramadan sedang sepi permintaan. Kondisi tersebut dipicu karena dalang belum mendapatkan jadwal pementasan wayang kulit.

Kemungkinan para dalang mendapatkan orderan pementasan wayang kulit setelah lebaran Juli sampai akhir tahun Desember mendatang. Disaat seperti ini dalang biasanya melakukan pemesanan wayang kulit ke perajin untuk pementasan.

“Sekarang sepi, kalaupun ada pesanan wayang kulit dari dalang mereka hanya pesan saja sedangkan bayarnya belakangan menunggu ada orderan pementasan,” ujar Marwanto.

Marwanto mengatakan, sistem yang diterapkan tersebut sengaja dilakukan demi menjaga pasar dan pesanan. Sebab kebanyakan pesanan wayang kulit ke perajin datang dari dalang. Sedangkan konsumen lainnya seperti kolektor atau pecinta wayang kulit jumlahnya sangat terbatas.

Perajin wayang kulit sudah saling memahami kebutuhan dengan para dalang. Sebab dalam satu tahun atau 12 bulan biasanya mengalami peningkatan permintaan pesanan mulai pertengahan hingga akhir tahun.

“Dalang mendapatkan orderan pementasan wayang kulit sekarang lebih sedikit dibanding beberapa tahun lalu. Pementasan itupun terbatas untuk acara tertentu seperti hajatan pernikahan, syukuran dan lainnya,” lanjutnya.

Perkembangan budaya modern menyebabkan tradisi pementasan wayang kulit menjadi tergusur. Imbasnya tidak hanya dirasakan oleh dalang maupun perajin wayang kulit.

“Untuk membuat wayang kulit sendiri juga menjadi tantangan berat perajin. Sebab generasi penerus semakin terbatas ditengah majunya perkembangan jaman,” lanjutnya.

Marwanto mengatakan, untuk meneruskan usahanya membuat wayang kulit dirinya harus mengajarkan ilmunya ke orang lain. Sekarang sudah ada enam orang pemulas dan lima orang penatah wayang kulit.

“Kami berharap pemerintah juga harus memberikan perhatian terkait budaya wayang kulit agar terus ada dengan mengajarkannya ke siswa sekolah,” lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI