Serangan Leptospirosis, Empat Warga Boyolali Meninggal Dunia

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Belasan kabupaten di Jawa Tengah, termasuk Boyolali, menjadi wilayah yang terdapat kasus leptospirosis, yakni penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang terkandung air kencing tikus. Tercatat dalam dua bulan terakhir, empat warga Boyolali meninggal dunia akibat terjangkit leptospirosis.  

Dalam Rakor Penanganan Penyakit Leptospirosis di Kantor Dinkes Boyolali, Kamis (1/3/2018), Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Tatik Muharyati menjelaskan, dari data tahun 2017 lalu, sebelas kota di Jateng, diantaranya Kebumen, Blora, Jepara, Cilacap, Klaten, Kabupaten Magelang dan Pati, menjadi wilayah yang terdata ditemukan kasus leptospirosis.

Kabupaten Kebumen menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, yakni 87 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 10 orang. Sementara Boyolali menempati urutan ke tujuh dari sebelas wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 34 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 9 orang. Untuk penanganan dan menekan jumlah kasus leptospirosis di Jateng, pihaknya akan meningkatkan koordinasi. "Sehingga penanganan bisa dilakukan secara tepat dan tepat," ujarnya.

Sementara dalam dalam rakor tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi dalam penanganan dan pencegahan kasus leptospirosis. Diantaranya survelaince ketat pada sektor kesehatan manusia maupun sektor kesehatan hewan, pengendalian populasi tikus di sawah melalui kegiatan gropyokan massal dengan menggandeng pihak lain, yakni Dinas Pertanian, serta tindakan pengobatan ternak yang terinfeksi leptospirosis, sebab ada temuan kasus sejumlah kasus hewan sapi terkena bakteri leptospira.

Kepala Dinkes Boyolali, Ratri S Lina menambahkan, rata-rata warga yang terserang penyakit ini adalah petani yang kerap berkegiatan di ekosistem tikus, yakni di sawah. Ada kemungkinan mereka kurang menjaga kebersihan, semisal mencuci tangan dengan air di sawah yang ternyata sudah tercemar bakteri leptospira. "Langkah lain adalah melakukan bio safety dan bio security petugas di sekitar kandang peternakan agar penyakit leptospirosis tidak meluas," jelasnya.  

Diinformasikan, dalam dua bulan terakhir, kasus leptospirosis menjangkit di Boyolali, dengan jumlah korban meninggal sebanyak dua orang. Tingginya angka kematian, kemungkinan disebabkan penderita kurang waspada saat terkena gejala yang mirip seperti penyakit-penyakit lain, sehingga sering diabaikan dan penanganannya pun terlambat. Biasanya baru pada stadium akhir, baru diketahui bahwa pasien menderita leptospirosis. (Gal)

 

BERITA REKOMENDASI