Sering Ditertibkan, Pedagang Oprokan Nekat Jualan di Luar Pasar

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Pedagang oprokan masih membandel nekat berjualan di luar pasar tradisional. Pemkab Sukoharjo meminta kepada organisasi perangkat daerah terkait untuk segera turun tangan. Tidak hanya teguran namun juga penindakan harus dilakukam sebagai bentuk sanksi.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sukoharjo Agus Santosa, Selasa (6/2/2018) mengatakan, masih ada temuan pedagang oprokan nekat jualan di luar pasar. Tempatnya seperti di Pasar Ir Soekarno Sukoharjo yang hampir setiap hari di luar ditemukan puluhan pedagang beejualan. Pedagang menggunakan tempat seperti jalan dan trotoar.

Temuan tidak hanya di tengah kota saja namun juga di wilayah pinggiran. Salah satunya di Pasar Kartasura di Kecamatan Kartasura. Para pedagang oprokan harus ditertibkan karena membuat kondisi lingkungan kotor. Dampak lainnya menyebabkan jalan menjadi semrawut.

"Dampak lainnya yakni sulitnya penarikan retribusi oleh petugas dan menyebabkan target yang dibebankan pada pengelola pasar tersendat," ujarnya.

Para lurah pasar diminta untuk bertindak tegas dengan meminta pada pedagang oprokan masuk ke dalam. Apabila tidak maka harus dilakukan pelarangan berjualan di luar pasar.

Agus mengaskan, Pemkab Sukoharjo sudah menyediakan tempat layak bagi pedagang untuk berjualan. Tempat tersebut seperti kios dan los. Pasar tradisional disejumlah wilayah juga telah selesai dibangun.

Pedagang oprokan yang berjualan di luar pasar tidak hanya berasal dari Sukoharjo saja, namun juga dari luar daerah. Hal itu diketahui dari hasil pendataan.

Lurah Pasar Ir Soekarno Sukoharjo Tri Sukrisno mengatakan, ada seratusan pedagang oprokan dari berbagai daerah berjulan di luar pasar. Mereka sulit ditertibkan padahal sudah disediakan tempat layak di dalam lingkungan pasar.

Pedagang oprokan juga sudah dilakukan pendataan dan sosialisasi. Pengelola pasar membutuhkan bantuan dari petugas terkait lainnya untuk melakukan penertiban.

"Pedagang oprokan sudah sering kami minta masuk jualan di dalam lingkungan pasar namun mereka membandel. Kami butuh bantuan dari petugas untuk penertiban," ujarnya.

Penertiban dilakukan agar pedagang oprokan sadar sekaligus jera. Sebab tempat yang dipakai menyalahi aturan yakni berupa jalan dan trotoar.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sukoharjo Heru Indarjo mengatakan, benar ada keluhan dari masyarakat berkaitan dengan keberadaan pedagang oprokan disejumlah pasar tradisional. Salah satunya yakni Pasar Ir Soekarno Sukoharjo. Keberadaan pedagang oprokan tersebut membuat tidak nyaman dan mengganggu aktifitas masyarakat umum.

"Jalan dan trotoar yang harusnya jadi fasilitas umum justru masih ditemukan dipakai pedagang oprokan. Setelah ini kami bersama petugas terkait lainnya akan melakukan penertiban," ujarnya.

Khusus untuk pedagang oprokan Pasar Ir Soekarno Sukoharjo mereka sudaha mendapatkan peringatan dari Satpol PP. Terakhir diperingatkan pada akhir tahun 2017 lalu. Beberapa pedagang pada saat itu sudah menyanggupi pindah tempat berjualan ke dalam pasar.

"Pedagang oprokan takut kalau pindah tempat ke dalam pasar daganganya tidak laku karena sepi. Mereka juga minta agar semua pedagang di luar masuk agar tidak terjadi kecemburuan," lanjutnya. (Mam)

 

 

BERITA REKOMENDASI