Sidang Praperadilan Kematian Siyono Dijaga Ketat

Editor: KRjogja/Gus

KLATEN, KRJOGJA.com – Sidang perdana praperadilan terhadap Polres Klaten atas kematian Siyono (terduga teroris) digelar di Pengadilan Negeri Klaten, Senin (18/3).

Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi  menilai, Praperadilan tersebut bagian dari kontrol masyarakat tehadap proses penegakan hukum yang dilakukan oleh kepolisian. Kesiapan terhadap materi gugatan, bersama tim hukum dari Polda dan Mabes Polri, sudah menyiapkan jawaban materi yang diajukan pemohon.

“Kami profesional dalam hal penyidikan. Prinsipnya apabila kami belum mempunyai bukti cukup terhadap sebuah peristiwa pidana, maka proses penyelidikan itu akan terus dilakukan, dan tak ada batas waktu. Namun bisa dihetikan, ababila nantinya ternyata alat bukti yang kita butuhkan tidak dapat dipenuhi,” kata Kapolres.

Untuk mengamankan jalanya sidang, Polres menurunkan sekitar 140 prsonil dengan didukung  berbagai sarana diantaranya metal detektor. “Ini dalam rangka mengamankan para pengunjung yang mengikuti jalanya sidang. Kami tak bermaksud apa-apa, meskipun termohonnya Polres Klaten. Demi jalanya sidang berjalan tertib,” jelas Kapolres pula.

Dalam persidangan dengan hakim Kurnia Dianta Giting tersebut pemohon praperadilan, Suratmi, warga Brengkungan, Pogung, Cawas, Klaten yang merupakan istri almarhum Siyono , melalui kuasa hukumnya terdiri M Busyro Muqqodas, Trisno Raharjo, Taufik Nugroho, Ari Santosa, Riduan Sihombing, dan Umar Januardi , mengajukan praperadilan atas pelanggaran-pelanggaran hak asasi pemohon , terhadap perkara penghentian laporan polisi Nomor : LP/B/154/V/2016/JATENG/RES KLT.

Sejumlah alasan permohonan praperadilan terungkap di persidangan, pada 8 Maret 2016 sekitar pukul 16.30, Siyono dibawa sekelompok orang dari Densus 88. Sejak saat itu pemohon tidak mendapat informasi keberadaan Siyono.

Selanjutnya pada 11 Maret 2016 sekitar pukul 15.00 WIB, Suratmi dibawa anggota Densus 88 ke Jakarta untuk menengok suaminya.  Tanggal 12 maet 2016 sampai di Bhayangkara, diberitahu secara resmi bahwa suaminya telah meninggal.

Jenazah almarhum Siyono lalu dibawa pulang ke rumah duka di Brengkungan, Pogung, Cawas, Klaten. Sebelum dimakamkan, saat penggantian kain kafan, pemohon dan keluarganya melihat luka-luka di tubuh dan wajah almarhum, serta pipi almarhum bengkak. Pemohon dan keluarganya akhirnya mengadukan hal itu ke Komnas HAM.

Berdasarkan permintaan dari Komnas HAM, maka Tim Forensik Muhammadyah dan Tim Foremik Polda Jateng melakukan  pemeriksaan penyebab kematian baik pemeriksaan luar maupun otopsi.

Berdasarkan hasil otopsi tersebut, pemohon pada 15 Mei 2016 melapor ke Polres Klaten, atas dugaan pembunuhan terhadap suaminya, yang diduga dilakukan beberapa aparat yang membawa suaminya. Tanggal 18 Mei pemohon diundang ke Polres untuk klarifikasi, dan sejak saat itu tidak pernah lagi mendapat informasi perkembangan penanganan penyidikan atas hal tersebut.

Selanjutnya tanggal 26 Agustus 2016, pemohon mengajukan surat permohonan perkembangan perkara ke Polres Klaten . Dikarenakan tak ada tanggapan, maka pada 15 Maret 2017 tim kuasa hukum pemohon kembali mengajukan surat permohonan perkembangan perkara. Surat serupa diajukan kembali pada 17 Juli 2017, dan disusul dengan surat yang keempat pada 15 Januari 2018. Namun dermikian tetap tidak ada laporan perkembangan atas kasus tersebut, sehingga diduga penyidik Polres Klaten telah menghentikan penyidikan diam-diam (tanpa adanya SP3). (Sit)

 

BERITA REKOMENDASI