Suhu Air Tak Stabil, Banyak Ikan Mati di Boyolali

Editor: KRjogja/Gus

BOYOLALI (KRjogja.com) – Akibat anomali musim, banyak ikan jenis nila yang dibudidayakan di keramba di Waduk Cengklik mati. Produksi ikan di Waduk Cengklik pun menyusut.

 

Ketua Kelompok Budidaya Ikan Karamba Apung Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Maryanto, Rabu (28/9) mengatakan, matinya ikan dalam jumlah besar tersebut disebabkan cuaca yang tak bersahat akibat anomali musim yang ditandai panas terik pada siang dan hujan di sore hari.? Kondisi tersebut menyebabkan perubahan suhu air secara drastis.

"Perubahan suhu yang ekstrim membuat banyak ikan yang tak kuat dan mati. Sebab ikan mestinya berada di lingkungan yang suhunya stabil," terang Maryanto.

Di Waduk Cengklik sendiri, imbuhnya, ada 65 kelompok peternak yang rata-rata per kelompok mempunyai 10 karamba. Bila diakumulasikan, jumlah ikan yang mati per harinya cukup besar, bisa mencapai satu kuintal. Rasa dongkol di hati peternak bertambah,  sebab rata-rata ikan yang mati adalah ikan berusia lima bulan dan tinggal menunggu masa panen. Sebagian ikan yang mati tersebut dijadikan makanan lele, sedang sisanya dibuang.

Ainul Hakim, peternak keramba lainnya menambahkan, bila dihitung sejak penebaran benih hingga perawatan selama lima bulan lebih, kerugian yang diderita tiap kelompok mencapai Rp 4 hingga Rp 5 juta. Bila dalam kondisi normal jumlah ikan yang dipanen mencapai 7 kuintal, saat ini hanya sebanyak 3 sampai 4 kuintal saja.

Untuk menutup modal, banyak peternak saat ini terpaksa menjual ikannya meski sebenarnya banyak yang belum siap panen. (R-11)

 

BERITA REKOMENDASI