Syukuri Berkah, Warga Gelar Tungguk Tembakau

BOYOLALI (KRjogja.com) – Dengan berpakaian adat dan menggotong berbagai gunungan hasil bumi, masyarakat Desa Senden, Kecamatan Selo, tumpah ruah di sepanjang jalan desa, Rabu (3/8/2016), melakukan tradisi Tungguk Tembakau dengan melakukan kirab berbagai hasil bumi dan berbagai ritual lainnya. Meski hasil panenan kali ini tak sebagaimana yang  diharapkan karena anomali cuaca, petani masih berharap merosotnya produksi tembakau bisa mengkatrol harga tembakau.

Klik: Kenalkan Indonesia Lewat Seni dan Budaya

Dalam ritual tersebut, warga melakukan kirab gunungan dengan diiringi kesenian tradisional masyarakat setempat sejauh 1 km lebih. Meski terlihat kepayahan dengan jalan yang menanjak menuju bukit di kaki Merbabu, keyakinan mendapat berkah membuat mereka tetap berdiri tegak melakukan kirab yang dimulai dari lapangan menuju makam desa. Usai memanjatkan doa, ritual dilanjutkan  dengan kenduri bersama yang dilangsungkan di jalan-jalan desa.   

Yoto Pawiro, Tokoh masyarakat desa setempat menjelaskan, meski Tungguk Tembakau adalah tradisi turun-temurun, namun baru kali ini tradisi tersebut dilakukan secara massal oleh masyarakat. Biasanya, tradisi sebagai penanda masa panen tersebut dilakuakn secara pribadi saja. Pelaksanaan tradisi kali ini juga dibantu oleh kelompok mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) yang kebetulan sedang ada tugas kuliah di desa tersebut.

Baca: Hidupkan Budaya Kraton Berbasis Masjid

“Tradisi ini kita lakukan selain sebagai wujud syukur, juga untuk melestarikan kebudayaan yang sudah berlangsung turun-temurun,” kata Pawiro.

Bagi warga setempat, tradisi yang dikhususkan untuk tembakau ini memang punya arti penting, mengingat komoditas tersebut selama bergenerasi menjadi tumpuan ekonomi warga setempat.

“Dengan tembakau kami bisa menyekolahkan anak dan kebutuhan lainnya. Disbanding komoditas lain, tembakau yang paling menguntungkan bagi kami,” imbuhnya. (M-9)

 

 

 

BERITA REKOMENDASI