Terbantu Cuaca Panas, Perajin Batu Bata Untung Besar

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Produksi batu bata yang dihasilkan perajin mengalami peningkatan 100 persen dampak dari kemarau panjang. Hal itu membuat keuntungan yang didapat perajin meningkat signifikan. Keuntungan semakin meningkat karena banyaknya pesanan tidak hanya pembeli lokal namun juga luar daerah.

Perajin batu bata asal Desa Trangsan, Kecamatan Gatak Eko Pambudi, Minggu (24/11) mengatakan, produksi batu bata sejak Agustus lalu hingga sekarang mengalami peningkatan 100 persen. Apabila sebelumnya hanya mampu memproduksi 500 biji batu bata maka sekarang mampu membuat 1.000 biji batu bata. Peningkatan tersebut tidak hanya dialaminya sendiri namun juga hampir semua perajin batu bata di wilayah lain. Bahkan untuk meningkatkan produksi dan memenuhi permintaan pasar para perajin rela menambah jam kerja dan jumlah pekerja. 

Peningkatan produksi batu bata yang dialami perajin sekarang disebabkan karena faktor musim kemarau panjang. Hal itu membuat perajin terbantu saat memproduksi batu bata. Hasil pencetakan batu bata mentah dengan mudah dan cepat dikeringkan secara manual dijemur panas sinar matahari. Proses ini hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja tidak sampai satu minggu. Kondisi tersebut berbeda dialami saat musim hujan karena perajin akan sulit melakukan pengeringan dengan cara dijemur.

Penyebab peningkatan produksi batu bata oleh perajin dikarenakan kemudahan mendapatkan bahan baku. Sebab kondisi kemarau panjang membuat banyak sawah dibiarkan mengering oleh petani. Tanah sawah itu kemudian dijual oleh petani untuk menekan kerugian akibat tidak tanam pada perajin batu bata.

Dampak kemarau panjang juga membuat harga tanah sawah untuk dipakai bahan membuat batu bata menjadi murah hanya Rp 130.000 per colt. Padahal sebelumnya jauh lebih mahal diatas Rp 150.000 per colt. Bahan baku tersebut setelah diolah menjadi batu bata akan dijual oleh perajin sebesar Rp 500 per biji. 

"Produksi batu bata sekarang meningkat 100 persen karena didukung kemarau panjang sehingga memudahkan perajin melakukan penjemuran. Selain itu permintaan pasar juga meningkat karena banyak yang bangun rumah dan kantor," ujarnya.

Eko mengaku pembeli batu bata produksinya mayoritas datang dari wilayah sekitar meliputi Kecamatan Baki, Gatak dan Kartasura. Namun ada juga pembeli dari daerah lain seperti Delanggu, Klaten dan Sawit, Boyolali. Rata rata penjualan dilakukan pada pembeli sebanyak 2.000 hingga 5.000 biji batu bata.

"Batu bata mentah akan saya produksi sebanyaknya sekarang mumpung masih musim kemarau sebagai stok menghadapi musim hujan. Sebab saat hujan turun nanti sulit berproduksi khususnya saat pengeringan atau penjemuran," lanjutnya.

Perajin batu bata asal Desa Ngemplak, Kecamatan Kartasura Wiro mengatakan, produksi batu bata meningkat. Sebab produksi sekarang lebih mudah terbantu adanya kemarau panjang untuk proses pengeringan batu bata mentah. Dalam satu hari mampu memproduksi sebanyak 1.000 batu bata.

"Saya sampai menambah pekerja dan jam kerja karena memang pesanan sangat banyak sekarang. Apalagi produksi sekarang lebih mudah batu bata mentah cepat kering karena kemarau panjang," ujarnya.

Wiro mengatakan, sekarang ikut melibatkan keluarga dan sejumlah kerabatnya untuk membantu memproduksi batu bata. Selain karena untuk memenuhi banyaknya permintaan pasar, juga membantu mempekerjakan mereka sekarang karena sedang menganggur. Dalam produksinya, Wiro mengaku juga menambah jam kerja apabila sebelumnya dari pukul 07.00 hingga 12.00 WIB saja, maka sekarang hingga malam hari pukul 21.00 WIB tergantung kondisi.

"Sekarang ada sekitar 10 hingga 15 orang yang membantu memproduksi batu bata. Biasanya hanya saya dan keluarga saja sekitar 4 orang," lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI