Tinggal di Pegunungan, Warga Boyolali Malas Makan Ikan?

BOYOLALI (KRjogja.com) – Karena letak geografis yang berada di pegunungan, tingkat konsumsi ikan di Boyolali terbilang rendah dibanding wilayah lainnya. Kepala Bidang Perikanan Dinas peternakan Dan Perikanan Boyolali, Naryanto, Kamis (18/8/2016) menjelaskan, dibanding tahun 2015 lalu, tingkat konsumsi ikan di Boyolali mengalami kenaikan, dari 14 kg per kapita per tahun menjadi 15 kg per kapita per tahun. Namun angkat tersebut jauh di bawah konsumsi ikan di Jawa Tengah sebanyak 22 kg dan konsumsi tingkat nasional yang mencapai 32 kg.

“Sementara idealnya, tiap orang mengkonsumsi  sebanyak 30 kg ikan per tahun,” kata Naryanto.

Penyebab utama rendahnya konsumsi ikan di Boyolali, lanjutanya, adalah faktor geografis wilayah Boyolali yang jauh dari perairan sumber ikan. Karena berada di wilayah pegunungan, masyarakat terbiasa mengkonsumsi makanan hasil pertanian dan peternakan seperti sayuran dan daging hewan ternak seperti sapi dan ayam. Padahal konsumsi ikan yang memadai bisa menjadi cara untuk menyeimbangkan takaran gizi masyarakat, sebab ikan dinilai lebih bergizi dan lebih aman dikonsumsi dibanding daging lainnya.

“Karena berada di wilayah pegunungan, warga Boyolali tak terbiasa mengkonsumsi ikan,” imbuhnya.

Untuk meningkatkan tingkat konsumsi ikan, pihaknya gencar mensosialisasikan ke masyarakat serta mendorong peningkatkan produksi ikan air tawar di perairan-perairan yang ada di wilayah Boyolali seperti di Waduk Kedung Ombo, Waduk Cengklik, Waduk Badhe dan di berbagai embung. Pendampingan kepada peternak ikan juga diintensifkan. Ia pun mendorong pemerintah desa untuk menerbitkan peraturan tentang larangan penangkapan ikan dengan setrum atau racun. Beberapa desa sudah menerbitkan aturan ini, semisal di langkah Desa Sarimulya, Kecamatan Kemusu. (M-9)

BERITA REKOMENDASI