Tolak Kriminalisasi Rakyat Penolak PT RUM

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Ratusan mahasiswa gabungan dari berbagai perguruan tinggi di Solo Raya melakukan demo di bundaran tugu perjuangan Kartasura, Sukoharjo Selasa (6/3/2018) sore. Aksi tersebut merupakan pertama dan jadi awal rangkaian demo serupa lanjutan dengan sasaran berikutnya di Mapolda Jawa Tengah. Mereka menuntut agar tiga orang yang ditangkap polisi terkait aksi protes limbah PT Rayon Utama Makmur (RUM) dibebaskan.

Salah satu peserta aksi dari kampus UNS dalam orasinya dihadapan mahasiswa Gilang Rido Ananda mengatakan, tiga orang yang ditangkap oleh polisi merupakan pejuang karena telah membantu dan menyuarakan keluhan masyarakat di Kecamatan Nguter terkait limbah bau PT RUM. Ketiganya ditangkap tanpa melalui proses hukum dalam aturan perundangan yang belum berlaku.

Banyak praktek pelanggaran hukum yang dibiarkan tanpa ada penegakan. Salah satunya yang terlihat dan nyata sekarang yakni berkaitan dengan limbah bau PT RUM. Masyarakat merasa keluhan tidak didengarkan para pejabat. Justru pejabat membiarkan ulah pengusaha dengan tetap memberikan izin dan tidak segera melakukan penutupan.

"Pembiaran dilakukan penguasa dengan membiarkan pengusaha bebas melakukan pencemaran lingkungan. Limbah membuat sengsara masyarakat Nguter," ujar Gilang.

Koordinator Umum aksi Rohman dalam keterangannya mengatakan, aksi yang dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap kriminalisasi rakyat penolak PT RUM.

Penangkapan terhadap tiga orang oleh polisi yakni Muhammad Hisbun Payu pada 4 Maret oleh sepuluh orang yang mengaku dari Polda Jawa Tengah dan beredarnya surat penangkapan terhadap Kelvin Ferdiansyah dan Sutarno merupakan bentuk kriminalisasi aparat terhadap pejuang lingkungan.

Bentuk kriminalisasi yang dilakukan oleh aparat kepolisian bermula dari aksi blokade warga akibat pencemaran udara dari PT RUM. Serangkaian perjuangan rakyat menutup PT RUM berangkat dari persoalan bau busuk yang menyebar di pemukiman warga.

Aksi demonstrasi rakyat dilakukan berulang kali dengan lokasi berbeda seperti di kantor DPRD dan Pemkab Sukoharjo. Massa juga menyasar pabrik PT RUM untuk melakukan protes. Berbagai aksi yang dilakukan hanya berbuah kesepakatan dan janji oleh pihak PT RUM

Puncak kekecewaan rakyat terjadi pada 23 Februari dengan melakukan blokade kembali pintu masuk pabrik PT RUM. Rakyat melampiaskan kekecewaan dengan cara membakar ban, merusak pagar dan merusak pos satpam.

"Sampai sekarang tiga pejuang lingkungan hidup masih berada di Polda Jawa Tengah. Mereka ditangkap diduga karena melakukan tindak pidana dengan sengaja membakar dan merusak. Oleh sebab itu kami Aliansi Mahasiswa Solo Raya memutuskan untuk kembali turun ke jalan bersolidaritas menuntut rekan kami dibebaskan," ujarnya.

Para mahasiswa dalam aksinya mengajukan sejumlah tuntutan kepada aparat seperti, hentikan kriminalisasi rakyat penolak PT RUM, bebaskan pejuang lingkungan hidup yang saat ini berada di Polda Jawa Tengah, usut tuntas pelanggaran HAM yang dilakukan PT RUM, cabut dan bekukan izin lingkungan hidup PT RUM. (Mam)

BERITA TERKAIT