Unwidha Beri Diklat Penguatan 698 Kepala Sekolah

Editor: KRjogja/Gus

KLATEN, KRJOGJA.com – Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten mendapatkan kepercayaan pemerintah untuk menyelenggarakan Diklat Penguatan Kepala Sekolah tahun 2019. Diklat diikuti sebanyak 698 orang dari kepala TK, SD, dan SMP terbagi dalam empat tahap.

 

Wakil Rektor II Unwidha, yang juga Ketua Lembaga Penyeleggara Diklat, Dr Tukiyo MPd Selasa (1/10) mengemukakan, pengajar dalam kegiatan ini terdiri dari dua unsur. Yakni dari dosen Unwidha sebanyak lima orang, dan pengawas sebanyak enam orang.

Terselanggaranya kegiatan tersebut, atas kerjasama Unwidha dan LPPKS (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah) yang berada langsung di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, khususnya di bawah Dirjen Guru dan Tenaga Kependididikan.

Untuk tahun ini peserta terdiri para kepala sekolah khusus di Kabupaten  Klaten.Untuk tahun mendatang dimungkinkan juga berasal dari luar Kabupaten Klaten.

Kegiatan dilakukan selama satu bulan, tetapi masing-masing tahap selama delapan hari. Kegiatan mulai dari pembukaan, orientasi,  mata diklat sebanyak 13 macam. Harapanya untuk menguatkan kepala sekolah, supaya memilki kemampuan yang mumpuni. Ada tiga aspek, yakni tentang tugas dan kewajiban kepala sekolah, tugas manajerial, tugas supervisi dan tugas kewirausahaan. Materi mulai literasi digital, teknik analisis manajemen, rencana kerja sekolah (RKS), pegelolaan pendidik dan tenaga kependidikan, supervisi dan penilaian kinerja pendidik, supervisi dan penilaian tenaga kependidikan . Selain itu masih ada lagi materi yang berhubungan dengan delapan standar nasional pendidikan (SNP).

Terkait literasi digital, Tukiyo menjelaskan, ada tiga hal yang utama. Supaya kepala seklah mampu menggunakan dan memanfatakan teknologi informasi yang ada, khususnya untuk menunjang kegiatan sehari-hari.

Kepala sekolah juga belajar membuat email, untuk berbagai kepeluan. Tidak kalah pegingya, memanfaatkan sumber belajar khususnya dari rumah belajar, yang merupakan titipan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, supaya rumah belajar yang telah dibuat pemerintah itu dimanfaatkan dengan baik oleh kepala sekolah, guru, siswa dan masyarakat.

“Umumnya para kepala sekolah masih lemah dari segi kemampuan IT, tapi dari aspek yang lain, secara umum sudah bagus,” Jelas Tukiyo.  (Sit)

BERITA REKOMENDASI