Variasi Motif, Kolaborasi Lurik dan Batik Terobosan Ditengah Pandemi

Terobosan Nurul dalam membuat lurik batik mendapat pendampingan dari peneliti UNS. Dari kolaborasi ada yang terlalu menonjolkan batik. Dra Rara Sugiarti MTourism memberi masukan agar ciri lurik tetap harus terlihat. “Kami tidak ingin karakter lurik hilang karena diblok batik,” katanya.

Jadi konsep kolaborasi lurik batik tetap sama sama memiliki karakter. Unsur batik disematkan di atas kain lurik. Kedepan juga akan menyematkan batik klasik seperti Kawung, Sidomukti dan sebagainya. Di situ karakter lurik tetap menonjol berdampingan dengan batik. Alternatif motif ini diharapkan bisa menarik pasar.

Nurul akan memasarkan produknya ke Yogyakarta. Kota Gudeg dinilai memiliki permintaan produk dengan selera yang lebih tinggi. Kolaborasi lurik batik berpeluang masuk ke sana. Karena itu ia terus melakukan penyempurnaan. Agar dalam waktu yang tidak lama terserap pasar dan mampu mendongkrak produk yang kini tinggal 30 persen.

Sedikitnya di Tlingsing ada 300 pengrajin lurik. Ketika normal rata-rata produksinya 150 sampai 170 meter/bulan. “Sekarang produk mereka turun 70 persen,” jelasnya di depan rombongan LPPM yang dipimpin Prof Dr Okid Parama Astirin.(Qom)

BERITA REKOMENDASI