Warga Suruhkalong ‘Boyong’ Mbok Sri Mulih

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Ritual bersih dusun warga Suruhkalong, Desa Pandeyan, Tasikmadu mengandung makna kerukunan antarwarga, bekerja keras dan melestarikan warisan nenek moyang. Sedekah bumi serta pagelaran wayang kulit berlakon Boyong Mbok Sri Mulih menjadi sajian rutin bersih dusun.

Ritual tahunan kali ini tetap terselenggara meski hasil bumi tak terlalu bagus dibanding panen tahun lalu. Setiap keluarga menyajikan sedekah bumi berupa dua tampah berisi nasi tumpeng komplit lauk pauk, buah buahan dan camilan tradisional seperti jadah, rengginan dan kue cucur. Makanan itu diangkut menggunakan tangga bambu secara bergotong royong kemudian diletakkan di pelataran di bawah pohon beringin. 

Sedekah bumi berupa hasil panen dimaknai pula dengan Boyong Mbok Sri Mulih yang melambangkan padi yang sukses dipanen kemudian disantap bersama-sama. Cerita Boyong Mbok Sri Mulih dipopulerkan melalui pagelaran wayang kulit di hari yang sama.

Menurut Sesepuh Dusun Suruhkalong  Miyano setelah semuanya tersaji lengkap, pemuka agama memulai prosesinya dengan memanjatkan doa dengan pengharapan kehidupan lebih baik di masa mendatang dan memintakan ampunan bagi pendahulunya. Setiap keluarga mengambil lagi sedekah itu untuk dibawa pulang usai pembacaan doa. 

"Hanya satu tampah yang dibawa pulang. Sisanya bisa disantap mereka yang membutuhkan. Seperti buruh tani atau musafir yang kebetulan lewat,” ujarnya, Jumat (02/09/2016). (R-10)

BERITA REKOMENDASI