Wilayah Terdampak Kekeringan Meluas di 13 Desa

SUKOHARJO, KRJOGJA.com -Kekeringan semakin meluas di Kabupaten Sukoharjo dampak dari musim kemarau. Apabila sebelumnya kekeringan terjadi di 11 desa maka sekarang bertambah menjadi 13 desa.  Akibatnya warga kekurangan air bersih dan terpaksa menggantungkan kiriman bantuan dari Pemkab Sukoharjo.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto, Minggu (1/9) mengatakan, ada tambahan dua desa terdampak kemarau panjang sehingga menyebabkan wilayah tersebut kekeringan. Keduanya yakni Desa Karangwuni dan Desa Karangtengah semuanya berada di wilayah Kecamatan Weru. Kedua desa sekarang sudah mengajukan bantuan untuk mendapat kiriman air bersih dari Pemkab Sukoharjo. 

Sebelumnya hingga awal Agustus lalu hanya ada 11 desa di tiga kecamatan terdampak kekeringan akibat kemarau penjang. Ketiga kecamatan yakni Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu. Semua desa yang kekurangan air bersih dipastikan semuanya sudah mendapat kiriman dari Pemkab Sukoharjo.
Masing masing desa mendapat kiriman air bersih sebanyak 15 tangki setiap hari. Jumlah tersebut bisa bertambah menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Sebab air bersih memang diprioritaskan untuk konsumsi rumah tangga warga, namun juga digunakan pemenuhan kebutuhan lain seperti ternak hewan dan fasilitas umum seperti masjid dan sekolah.

Data dari BPBD Sukoharjo di 11 desa di tiga kecamatan sebanyak 3.030 Kepala Keluarga (KK) mendapatkan bantuan air bersih. Rinciannya, di Kecamatan Tawangsari meliputi Desa Watubonang 526 KK / 1538 jiwa droping air bersih sebanyak 160 tangki, Desa Pundungrejo 87 KK / 285 jiwa droping 43 tangki. Kecamatan Weru di Desa Jatingarang 130 KK/ 500 Jiwa droping 22 tangki, Desa Alasombo 120 KK / 388 Jiwa droping 29 tangki, Desa Karangmojo 495 KK / 1.988 jiwa droping 29 tangki, Desa Ngreco 848 KK / 2.512 Jiwa droping 30 tangki, Desa Tawang 311 KK / 1.072 jiwa droping 51 tangki, Desa Weru 60 KK / 208 droping 8 tangki, Desa Karanganyar 62 KK / 235 jiwa droping 13 tangki, Desa Karangwuni 155 KK / 460 jiwa droping 46 tangki, Desa Karangtengah 288 KK/ 264 jiwa droping 0 tangki. Kecamatan Bulu
Desa Kunden 163 KK / 447 jiwa droping 22 tangki, Desa Kamal 135 KK/ 560 jiwa droping 22 tangki

"Dua desa tambahan terdampak kekeringan di Desa Karangwuni, 155 KK dan Desa Karangtengah 288 KK juga mendapat droping atau kiriman air bersih. Jadi total keseluruhan ada 13 desa," ujarnya.

BPBD Sukoharjo mencatat ada sebanyak 467 tangki air bersih sudah disalurkan oleh Pemkab Sukoharjo pada warga terdampak kekeringan. Air bersih tersebut juga datang dari sejumlah pihak yang peduli baik lembaga, organisasi, paguyuban, swasta dan lainnya.

Proses pengiriman bantuan air bersih dikoordinasikan BPBD Sukoharjo dengan PDAM Sukoharjo. Hal itu dilakukan karena PDAM Sukoharjo memiliki pemenuhan kebutuhan suplai air bersih dan armada berupa truk tangki.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sukoharjo Agus Santosa mengatakan, Pemkab Sukoharjo sudah menjamin kebutuhan air bersih saat musik kemarau. Bahkan sejak dahulu air bersih sudah dikirim gratis kepada warga terdampak kekeringan. Bantuan diberikan secara resmi dari dari pemerintah baik Pemkab Sukoharjo maupun sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). 

“Bantuan air bersih langsung dikirim begitu Pemkab Sukoharjo mendapat surat pengajuan permintaan dari warga. Jadi tidak harus menunggu sumur kering saat puncak kemarau Agustus nanti. Tidak juga harus menunggu warga kesulitan hingga membuat mereka membeli air bersih ke pedagang keliling atau tempat lain,” ujarnya. 

Agus menegaskan, saat musim kemarau datang dan warga mengalami kesulitan air bersih maka bisa langsung dikirim bantuan dari Pemkab Sukoharjo. Mekanisme pengajuan sudah diketahui oleh pihak pemerintah kecamatan dan desa. 

Air bersih yang dimaksud yakni untuk kebutuhan rumah tangga warga terdampak kekeringan seperti memasak, minum dan lainnya. Air bersih juga diberikan kesejumlah fasilitas umum ditingkat desa seperti sekolah dan tempat ibadah. Selain itu hewan ternak warga juga mendapatkan bantuan serupa. 

“Pemerintah kecamatan dan khususnya pemerintah desa harus peka terhadap kondisi warganya. Saat kemarau apabila memang warga kesulitan air bersih maka segera buat surat pengajuan dan kirim ke Pemkab Sukoharjo,” lanjutnya. 

Pemerintah desa diminta juga untuk melakukan pemantauan wilayah dengan pengecekan langsung kondisi warga. Tidak terkecuali melihat debit air sumur warga. Selain itu juga dipantau kondisi fasilitas Pamsimas yang sudah disediakan pemerintah. (Mam)
 

BERITA REKOMENDASI