Elevasi Kedungombo Turun, Musim Tanam Dipastikan Mundur

GROBOGAN, KRJOGJA.com – Musim tanam (MT) I padi di Grobogan diperkirakan akan mundur, menyusul belum dibukanya pintu Waduk Kedungombo. Saat ini saluran irigasi yang ada masih kering kerontang. Setiap tahun, pasokan air dari waduk biasanya ditutup selama dua bulan, yakni pada bulan Juli dan Agustus. Penutupan ini dilakukan untuk masa pemeliharaan jaringan irigasi.

“Namun tahun ini, air dari Waduk Kedungombo belum juga digelontorkan hingga akhir Oktober 2019, karena elevasi masih berada pada angka 78,88 meter. Untuk bisa digelontorkan, elevasi minimal harus berada di angka 85,0 meter. Dalam rapat dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana, Komisi Irigasi, air dari Kedungombo akan mulai digelontorkan awal November 2019,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Grobogan Ir Edhie Sudaryanto MM, Selasa (29/10/2019).

Disebutkan, luas areal pertanian persawahan di Kabupaten Grobogan ada sekitar 83 ribu hektare. Sebagian besar areal pertanian ini belum ada yang ditanami karena dampak kemarau panjang. “Sebagian besar areal pertanian di Grobogan adalah sawah tadah hujan. Sementara yang mendapatkan aliran irigasi hanya sekitar 35 ribu hektare,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Operasional dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Juana Dina Noviadriana, mengatakan, pasokan air memang belum dibuka karena elevasi Waduk Kedungombo masih berada di bawah 85,0 meter. “Kedungombo akan digelontorkan mulai awal November 2019. Hal ini juga menyesuaikan perkiraan cuaca dari BMKG,” katanya.

Diakuinya, pada musim kemarau tahun ini sejumlah waduk dan bendungan mengalami penurunan elevasi secara drastis. Menurunnya elevasi ini salah satu penyebabnya adalah kondisi cuaca yang suhunya di atas 38 derajat celsius dan berlangsung cukup lama. (Tas)

BERITA REKOMENDASI