Gadis Desa Ciptakan Aplikasi Foodo

Editor: Ivan Aditya

PATI (KRjogja.com) – Nur Sitha Afrilia (20) lahir di Desa Lebakwetan, Kecamatan Sukolilo, Pati. Putri pasangan Musyafak dan Miftakhul Jannah adalah tamatan SMAN I Kayen. Sekarang tercatat sebagai  mahasiswi semester 5 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Meski kelahiran pelosok desa, ternyata nama Shita (begitu dia biasa dipanggil), sudah mendunia. Ia    meraih predikat Best Speaker Amity Youth Festival India, pada bulan Febuari 2016. Serta baru saja meraih Best Inovation dalam Asia Pasific Future Leader, yang diselenggarakan di Kualalumpur Malaysia.

“Aplikasi Foodo dirancang untuk membantu orang yang ingin menyumbangkan atau berbagi makanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Nama Foodo adalah gabungan dari kata food dan donation. Atau arti bahasa Indonesianya adalah berbagi makanan,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (09/12/2016).

Adapun cara kerja aplikasi foodo yang diciptakan Shita, adalah menjalin kerjasama dengan toko-toko makanan untuk menyumbangkan bahan makanan yang mendekati masa kedaluwarsa. Daripada makanan terbuang percuma maka lebih dulu  dapat dibagikan kepada pihak yang lebih membutuhkan.

Hasil karya Shita dan Adrian tersebut menarik perhatian Google dan Facebook sehingga dua perusahaan kelas internasional tersebut terkesan akan membeli aplikasi foodo. “Silakan dibeli. Tetapi aplikasinya harus dicantumkan ciptaan bangsa Indonesia,” kata Shita.

Selain meraih predikat Best Inovation dalam Asia Pasific Future Leader di KL Malaysia, Shita Afrilian   juga pernah meraih Best Speaker Amity Youth Festival India. Dia menempati  juara 2 di Amity Youth Festival India, pada bidang predikat best speaker.

Bahkan untuk mengikuti even di India tersebut, Shita harus meninggalkan tanah air selama 2,5 bulan. Karena mengikuti pertukaran pelajar di New Delhi dan magang di NGO Humans For Humanity, yang bergerak di bidang sosial dan berada dibawah pengawasan Parlemen New Delhi. Shita dan regunya melakukan observasi di sebuah perkampungan kumuh di Kathputli India.

"Saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana dan tumbuh dikalangan masyarakat pedesaan, tetapi saya tidak minder. Karena sebagai manusia kita mepunyai hak yang sama, termasuk hak meraih prestasi di kancah internasional,” kata Shita. (Cuk)

BERITA REKOMENDASI