Garam Langka, Industri Es Bersiap Gulung Tikar

REMBANG, KRJOGJA.com – Produksi garam selama ini masih bersifat tradisional,yakni dengan mengandalkan panas matahari. Dan dikarenakan cuaca yang tidak menentu menyebabkan produksi garam di Kabupaten Rembang saat ini gagal. Padahal Kabupaten di Pantura ini dikenal sebagai penyangga garam di Provinisi Jawa Tengah, karena ribuan ton setiap tahunnya dihasilkan dari lahan tambak di wilayah ini.

Akibat gagalnya produksi garam di tingkat petani kini garam impor sudah mulai masuk, baik yang didatangkan dari India maupun Australia, namun masyarakat sudah terlanjur lekat dengan garam lokal, baik untuk konsumsi maupun untuk industri. Berdasarkan pantauan KRJOGJA.com harga garam 'grosok' (garam di gudang petani) saat ini mampu menembus di kisaran Rp 4.000 per kilogramnya.

"Sungguh mengherankan,saya yang menjadi petani garam sejak muda, baru sekarang ini menjumpai harga garam mampu menembus di harga Rp 4.000 setiap kilogramnya. Padahal kemarin masih di kisaran Rp 1.000 perkilogramnya," kata Moch Samsi (50) petani di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Rembang. Harga ini diprediksi akan terus mengalami kenaikan,karena tiadanya produksi dari petani.
      
Efek dari kenaikan garam yang melonjak drastis membuat sederetan pabrik es di wilayah ini akan menghentikan produksinya, karena tingginya biaya pembuatan. Slamet Raharjo (45) salah seorang pengelola Pabrik Es balok di kawasan Rembang selatan mengaku saat harga garam masih di kisaran Rp 1.000 per kilogramnya pabriknya membutuhkan 5 ton sekali produksi, sehingga memerlukan Rp 5 juta sekali produksi.

"Lha kalau garam merupakan bahan dasar pembuatan Es balok mencapai harga Rp 4.000 per kilogramnya,jelas tidak menutup pengeluaran," kata Slamet masih menunggu keputusan sesama asosiasi pabrik Es batu.

Kelangkaan Es balok sendiri akan berpengaruh terhadap industri pengawetan ikan, hal itu dikarenakan, setiap kapal nelayan yang melaut hingga berhari-hari selalu membawa bekal Es balok untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang Ir Suparman saat dihubungi Jumat kemarin mengakui akibat kelangkaan garam di tingkat petani membuat banyak sektor menjadi terganggu. Data yang ada, kata Suparman, produksi tahun 2017 ini produksi garam di Rembang hanya 64 ton.

"Ini jumlah yang sangat minim,karena Kabupaten Rembang dalam cuaca normal mampu memproduksi garam antara 150.000 ton hingga 200.000 ton sehingga menjadi penyangga garam di tingkat nasional," katanya.(Ags)  

BERITA REKOMENDASI