Gema Ramadan Di Kampung Pecinan

SUARA kalam Illahi melalui tadarus para santri,baik santri pria dan santri wanita bersahutan nan riuh memecah malam sunyi di kota tua,Lasem,Kabupaten Rembang.  Saat ramadan seperti sekarang ini bukanlah hal yang baru,karena suatu hal yang lazim di jalur pantura gema tadarus bersahutan dari masing-masing masjid ataupun surau sebagai sebuah tradisi religi turun temurun.

Dari pondok pesantren (ponpes) Kauman, Lasem gema santri mengaji sudah lazim terdengar sejak tahun 2003 silam,dimana KH Zaim Achmad Ma`shoem ( Gus Zaim) mendirikan ponpes. Padahal ponpes tersebut secara administrasi kependudukan berada di Desa Karangturi,Lasem yang nota bene merupakan kampung pecinan yang usianya cukup tua hingga dijadikan salah satu pusat heritage Lasem.
      
Semula Gus Zaim bersama saudara berada di kompleks ponpes Al Hidayah di Soditan,Lasem yang didirikan oleh alm kakeknya KH Ma`soem (sosok kiai kharismatis pendiri NU bersama KH Hasyim Ashari,Red) hingga akhirnya Gus Zaim berhasil membeli rumah milik salah satu tokoh Tionghoa di Karangturi. Rumah dengan arsitektur Tiongkok hingga kini masih tertata rapi lengkap dengan lampion yang menyala di malam hari,sementara di sekeliling tumah induk didirikan bangunan untuk aula dan mukim para santri. 

Para kiai baik dari Rembang dan sekitarnya bahkan tamu dari Jakarta saat berkunjung ke kediaman Gus Zaim justru banyak bertanya tentang keunikan ponpes Kauman yang sebenarnya berada di kampung pecinan. " Oleh karena ponpes tersebut menuju jalan kecil ke kauman maka para kiai dan masyarakat lebih setuju menamainya dengan ponpes Kauman dan bukan ponpes Karangturi. Rasanya masih kurang enak di telinga wong nama ponpes kok Karangturi yang nota bene merupakan kampung pecinan yang usianya ratusan tahun," kata KH Ishak Maskuri (58) ulama Lasem. 

Banyak tokoh-tokoh dari luar kota yang datang ke Lasem mengagumi sosok Gus Zaim yang disebut juga sebagai "Gus Dur Kecil" karena mampu membaur bersama semua tokoh lintas agama. Bahkan sosok Gus Zaim pula yang memprakarsai pertemuan dengan para tokoh tionghoa baik yang berada di Lasem maupun yang di luar Lasem untuk tetap mempertahankan jatidiri kota tua Lasem-menuju kota pusaka ke Unesco. Bahkan di tahun 2017 ini pula,Kementerian Pariwisata telah membuka pintu agar Lasem ikut serta dalam ": Nasional Geographic dalam lomba pariwisata international world travel tourism council (WTTC) guna meraih Destination Award. (Agus Sutomo)

BERITA REKOMENDASI