Gerakan Bawah Tanah Telah Merongrong Kewibawaan Pancasila

REMBANG, KRJOGJA.com – Dewasa ini Indonesia terus mengalami guncangan demokrasi dan munculnya gerakan bawah tanah melemahkan persatuan dan kesatuan bangsa, oleh karenanya dibutuhkan benteng yang kuat guna tetap menjaga kekokohan Pancasila serta keutuhan NKRI.

Demikian dikemukakan Ahmad Atabik, Rois Syuriah MWC PCNU Lasem yang juga kandidat doktor Islamic Studies UIN Walisongo, Semarang dalam sarasehan sehari, berkaitan dengan Hari Kesaktian Pacasila 1 juli bertempat di Gedung SMK Avicena, Lasem, Rembang, Kamis (1/6/2017).

Menurut Atabik, jauh sebelum Indonesia merdeka,pancasila diyakini telah lahir yaitu semasa kejayaan Majapahit, Sriwijaya dan Kasultanan Demak meski masih berupa embrio.

“Namun secara nyata terlahir setelah dirumuskan oleh BPUPKI 29 April 1945,” jelasnya. Ditambahkan sejak dirumuskan M Yamin sudah berani menyampaikan gagasan lima dasar negara yaitu, peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan dan kesejahteraan rakyat yang kemudian sempurna menjadi Pancasila yang kita kenal hingga sekarang ini dan selanjutnya diproklamairkan Bung Karno pada 1 Juli 1945.

Dalam sesi berikutnya Arwani Thomafi yang juga anggota DPR RI dari komisi I menyebutkan, jika peneguhan tentang NKRI dan Pancasila harus terus digelorakan disetiap kesempatan.

“Euforia reformasi yang kebablasan telah melahirkan banyak ideologi termasuk untuk menggoyahkan NKRI. Kita malu jika pendidikan pancasila dan kewiraan sdah hilang dan generasi mudanya tidak memahami sejarah bangsanya sendiri,” kata Thomafi. Sarasehan diikuti ratusan orang dari berbagai kalangan terutama ormas dan jamiyah Nahdlatul Ulama Cabang Lasem, Rembang. (Ags)

BERITA REKOMENDASI