Ingin Naik Tingkat Penghargaan Kota Layak Anak, Kota Pekalongan Lakukan Ini

PEKALONGAN, KRJOGJA.com – Mendapatkan penghargaan Kota Layak Anak kategori Pratama pada tahun 2018 lalu, Pemkot Pekalongan bersama stakeholder terkait berkomitmen untuk terus meningkatkan pengembangan Kota Pekalongan menuju Kota Layak Anak. Tak hanya mengejar predikat, namun Pemkot juga ingin memastikan bahwa upaya perlindungan anak terpenuhi di setiap indikator.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Eki Moerjani Dyah Trikora, dalam kegiatan Workshop Kota Pekalongan Menuju Kota Layak Anak, akhir pekan lalu mengatakan, Kota Layak Anak bertujuan membangun sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak.

Dia mengatakan, tahun 2018 Kota Pekalongan mendapatkan predikat Kota Layak Anak dengan kategori pratama dengan nilai 565 dari nilai maksimal 1000. Dia menargetkan pada penilaian KLA tahun ini, Kota Pekalongan dapat mendapatkan nilai dan peringkat yang lebih baik dari tahun sebelumnya yakni mendapatkan predikat Kota Layak Anak kategori madya.

“Yang terpenting itu adalah antisipasinya. Kami menghendaki Rumah Layak Anak, Sekolah Ramah Anak, Kampung Layak Anak untuk memberikan ruang pada anak dalam berkreasi. Point penting yang harus ada dalam menuju Kota Layak Anak yang masih terdapat kekurangan di tahun sebelumnya apa ini yang harus dipenuhi, tidak hanya mencapai keberhasilan atau mencari kejuaraan namun yang lebih penting adalah pengimplementasian dan dampaknya nanti,” tuturnya.

Target tahun ini, tambahnya, dia menargetkan Kota Pekalongan bisa mendapat nilai 700 agar bisa mendapat penghargaan kategori madya. Tahun lalu dikatakan Eki, saat tahap verifikasi Kota Pekalongan mendapat nilai 750 namun saat verifikasi lapangan nilai Kota Pekalongan turun menjadi 565.

“Fokus yang dikejar tahun ini adalah penunjangan sarana dan prasarana mengenai informasi layak anak seperti baliho, dan sebagainya. Tahun sebelumnya nilai yang masih kurang di pola pengasuhan, kita sudah punya Panti Wisma Rini di Pekalongan Utara, bagian Selatan untuk lansia, Ar Robithoh yang dianggap masih belum maksimal,” jelas Eki.

Dihadiri oleh segenap OPD di lingkungan Pemerintah Pekalongan dan stakeholder, kegiatan kali ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan koordinasi antar lembaga untuk mewujudkan Kota Layak Anak serta memperkuat peran dan kapasitas pemerintah dalam mewujudkan pembangunan di bidang tumbuh kembang dan perlindungan anak.

Disampaikan Eki, ada 24 indikator yang mampu mewakili terpenuhinya hak-hak anak sehingga dapat dikatakan menuju kabupaten/kota layak anak yang terdiri dari 5 kluster, yaitu: (1) hak sipil dan kebebasan; (2) lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif/pengganti; (3) kesehatan dasar dan kesejahteraan; (4) pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya; (5) perlindungan khusus.

Eki berharap melalui workshop ini para peserta dapat menyamakan persepsi mengenai pemahaman dan menggali hasil evaluasi KLA Kota Pekalongan di tahun sebelumnya sehingga semua stakeholder memahami bagian yang memerlukan perbaikan.

“Yang namanya Kota Layak Anak itu anak dimanapun berada pasti harus memiliki rasa aman, baik di lingkungan rumah, sekolah maupun di luar itu yang kadang-kadang kita terlena anak berbuat apa kita tidak tahu,” tandas Eki. (*)

BERITA REKOMENDASI