Jumlah Desa Terdampak Kekeringan di Pati Bertambah

Editor: KRjogja/Gus

PATI, KRJOGJA.com – Jumlah desa yang mengalami kekeringan, sejak awal Oktober ini terus bertambah. Dari semula 88 kini menjadi 100 desa. Bahkan hilangnya sumber air (sumur), juga sudah mulai masuk ke dalam kawasan kota Pati, yakni desa Kranggan.

 

Warga terdampak musim kemarau sangat membutuhkan bantuan air bersih. Namun pengiriman bantuan air tidak bisa cepat terkirim karena minimnya armada (tangki).

Akibat musim kemarau menyebabkan persawahan di kecamatan Pucakwangi mengering dan berubah menjadi jalan raya. Keadaan yang sama juga terjadi di kawasan perkampungan kecamatan Winong dan Jakenan. Tanaman meranggas dan kemudian mati layu.

Penggiat aksi kemanusiaan, Gunawan SH merincikan desa yang mengalami krisis air bersih, Selasa (8/10). Di wilayah kecamatan Pucakwangi melanda 14 desa. Di Tambakromo 11 desa, Jakenan 16 desa, dan Winong 12 desa.

Di kecamatan Sukolilo 5 desa, Kayen 12 desa, Gabus 10 desa, Jaken 7 desa, Batangan 4 desa. Kemudian Juwana baru desa Sejomulyo. Demikian juga kecamatan Margorejo hanya desa Badegan. Serta di wilayah kecamatan Pati kota, kekeringan melanda desa Sarirejo, Kranggan dan Sidoharjo.

Bupati Pati, H Haryanto menyebutkan  BPBD, PMI maupun lembaga dan organisasi lain, setiap hari selalu mengirim bantuan air bersih ke sejumlah desa. "Ini merupakan bentuk kepedulian. Jumlah penyumbang semakin bertambah, sehingga sangat membantu masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, pengiriman bantuan air bersih yang akan dilakukan perorangan, mengalami kendala. Yakni akibat minimnya mobil tangki pengangkut air.

Keterangan yang dihimpun menyebutkan, sewa tangki air bersih isi 5000 sampai 7000 liter berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 250.000,. Namun itupun tidak bisa langsung berangkat karena sudah terlalu banyak yang inden (antre). Akibat dari kejadian ini menyebabkan pengiriman bantuan air bersih menjadi tersendat. (Cuk)

 

 

BERITA REKOMENDASI