Kemristekdikti Uji Penerapan Konverter

TEGAL (KRjogja.com) – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) melakukan uji penerapan konverter kit bahan bakar ke gas generasi kedua di Tegal, Kota Tegal, Jawa Tengah, Selasa (20/9). Konverter kit generasi kedua tersebut merupakan hasil riset dari peneliti binaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Abdul Hakim Pane.

"Hasil riset yang dilakukan ini sudah masuk ke tahap uji lapangan prototipe atau Technology Readiness Levels (TRL) 7 atau tahap pembuktian di lapangan. Tinggal selangkah lagi, masuk ke tahap hilirisasi," kata Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristekdikti, Muhammad Dimyati.

Alat tersebut dapat mengkonversi penggunaan tujuh jenis bahan bakar yakni bensin, solar, alkohol, LPG, LNG, CNG, dan biogas. Dengan alat tersebut, nelayan yang sebelumnya melaut dengan menggunakan bensin dan solar, sekarang bisa menggunakan bahan bakar gas.

Berbeda dengan generasi pertama yang mengkonversi bahan bakar yang menggunakan mesin tipe kaburator, untuk generasi kedua lebih canggih karena bisa diterapkan untuk mesin jenis terbaru atau injeksi.

Konverter kit tersebut bisa digunakan untuk alat pertanian dan juga nelayan."Kalau sebelumnya, belum ada konverter untuk mesin diesel. Tapi di generasi kedua ini, solar sudah bisa dikonversi menjadi gas," ujarnya.

Dimyati menyebut alat tersebut bisa digunakan untuk mesin empat tak dan dua tak. "Program ini merupakan program insentif yang diberikan Kemristekdikti untuk penelitian. Untuk alat ini, kami menggelontorkan dana sebesar Rp800 juta," katanya.

Dimyati berharap ke depan semakin banyak hasil riset yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat, bukan sekedar berada di perpustakaan. Penemu alat konverter tersebut, Abdul Hakim Pane, menjelaskan penghematan yang diperoleh dari penggunaan alat tersebut cukup banyak.

"Satu tabung gas tiga kilogram tersebut bisa digunakan untuk melaut selama 11 hari. Itu untuk mesin empat tak. Sedangkan jika menggunakan bensin 10 liter untuk untuk 11 hari dengan asumsi melaut selama dua jam per hari," kata Abdul Hakim.

Sementara untuk kapal dengan mesin dua tak (kapal yang digunakan untuk laut yang berombak), untuk 10 hari memerlukan 146 liter bensin, sedangkan jika menggunakan gas hanya membutuhkan 10 tabung.
Untuk mesin diesel dua tak memerlukan 80 liter untuk 10 hari, sedangkan jika menggunakan gas hanya memerlukan 10 tabung. Alat konverter tersebut juga dilengkapi dengan kotak pengaman, yang aman dari ledakan.

Meski demikian, Abdul Hakim menyebut belum ada industri yang tertarik untuk melakukan hilirisasi produk tersebut. "Kami tentu saja berharap, agar ke depan produk ini bisa diproduksi massal dan dimanfaatkan masyarakat," harap Abdul Hakim.

Wali Kota Tegal, Siti Masitha Soeparno, menyambut positif hasil tersebut karena dapat menghemat biaya yang dikeluarkan oleh nelayan. "Ini merupakan terobosan yang luar biasa, karena menghemat biaya. Kami mengharapkan, hasil inovasi ini bisa diproduksi massal sehingga bisa digunakan nelayan serta ke depan dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan di Tegal," harap Masitha.
(Ati)

BERITA REKOMENDASI