Komunitas Tionghoa Tak Dilibatkan di Festival Lasem :

REMBANG, KRJOGJA.com – Event tahunan Festival Lasem digelar selama tiga hari berturut-turut. Kegiatan yang dipelopori Dinas Pariwisata dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan tersebut guna menunjang wisata "heritage" yang ada di kota tua Lasem.

Termasuk mengangkat batik tulis Lasem yang memiliki sejarah panjang masuknya pedagang Tionghoa di wilayah ini.  Namun sayangnya event tersebut meski sudah beberapa kali dilaksanakan masih terkesan kurang greget. Dan salah satu masalah pokok,pihak panitia Festival Lasem tidak  menggandeng masyarakat Tionghoa di kecamatan Lasem, sehingga gebyarnya belum begitu terasa. Padahal ajang tersebut ditargetkan mengangkat nama Lasem mampu go internasional.

Gandor ( Hoo Kyat Tann)   tokoh Tionghoa warga Desa Karangturi Kecamatan Lasem melontarkan pernyataan itu kepada sejumlah wartawan Senin kemarin. Pengelola bangunan tua Lawang Ombo ini merasakan penyelenggara maupun panitia belum mengoptimalkan koordinasi dengan kalangan warga Tionghoa. 

Menurutnya, dengan pendekatan jauh – jauh hari, bisa mendapatkan tambahan biaya dari berbagai donatur yang peduli terhadap Lasem. Tujuannya, sponsor ikut turun meramaikan dan kegiatan Festival Lasem menjadi lebih semarak.

Camat Lasem, Harjono mengatakan Festival Lasem tahun ini sudah diupayakan menampilkan sajian berbeda, agar tidak terkesan monoton dengan pagelaran tahun sebelumnya. Salah satunya acara "Grebeg Dumbeg" di ruang terbuka hijau (RTH) Desa Dasun, Minggu kemarin. 

"Ada 5.300 an dumbeg diarak, untuk lebih mengenalkan potensi makanan khas kabupaten Rembang. Jenis makanan khas Rembang "dumbeg" ini terbuat dari air legen (siwalan) dicampur dengan tepung beras dan dibalut dengan daun kelapa dengan bentuk lonjong." (Ags)
 

BERITA REKOMENDASI