Mental Belum Siap, Perceraian di Rembang Meningkat

REMBANG (KRjogja.com) – Angka perceraian di wilayah Kabupaten Rembang ternyata masih cukup tinggi, bahkan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2015) justru mengalami peningkatan. Minimnya kesadaran pasangan suami istri, rendahnya rasa tanggung jawab serta himpitan ekonomi menjadi pemicu terjadinya perceraian. Ironisnya perceraian menimpa kalangan muda (pasangan muda).

Data yang dihimpun KRjogja.com dari Kantor Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Rembang menyebutkan, selama tahun 2016 di wilayah ini telah terjadi perceraian sebanyak 1.332 kasus dan didominasi kasus gugat cerai. Sementara tahun sebelumnya perceraian di wilayah ini masih berada di kisaran 1.200 kasus.

Kawasan Rembang timur yang selama ini dikenal sebagai kawasan agamis justru menempati urutan tertinggi perceraiannya bila dibandingkan Kecamatan wilayah Remang barat. Kawasan Rembang timur yang agamis (karena keberadan ponpes) diantaranya Kecamatan Sarang, Kecamatan Lasem, Kecamatan Sedan, Kecamatan Sluke dan Kecamatan Kragan.

Kepala Pengadilan Agama Rembang melalui Panitera Muda Kusnan SH membenarkan masihi  tingginya angka perceraian di Rembang dan didominasi pasutri muda. "Rendahnya rasa tanggung jawab kepada keluarga, krisis moral, masih adanya kawin paksa serta pengaruh pihak ketiga mendominasi beberapa faktor masih tingginya angka perceraian," jawab Kusnan.

Terpisah Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Rembang Drs H Athoilah Muslim mengakui jika kesiapan mental pasangn serta kemapanan eknomi ikut menjadi faktor masih tingginya angka perceraian.

"Menikah di usia muda tanpa dibarengi kemapanan ekonomi tentu menjadi salah satu faktor yang dominan. Mereka itu secara mental belum siap memasuki jenjang perkawinan, termasuk di kawasan yang agamis," kata Athoillah. (Ags)

 

BERITA REKOMENDASI